angan Lupa Follow Dan Berkomentar Ya
Jangan Lupa Follow Dan Berkomentar Ya

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) ZOOLOGI INVERTEBRATA


LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
ZOOLOGI INVERTEBRATA
“KEANEKARAGAMAN PORIFERA, COELENTERATA, MOLUSCA, ARTHROPODA DAN ECHINODERMATA DI PANTAI NGANTEB KABUPATEN MALANG-MALANG SELATAN”
Dosen Pengampu:
Mujahidin Ahmad, M.Sc
Fitriyah, M.Si

Disusun Oleh:
Iqbalullah M K                      136200
 Luthfi Hakim                     
 Suhartono                              13620033
 Fista Nisaul Hikmah             13620043
 Dian Eka Pratiwi                  13620046

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2014

KATA PENGANTAR


Alhamdulillahhi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam. Dengan penuh rasa syukur kepada allah SWT, Akhirnya Laporan Singkat Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mengenai Studi Keanekaragaman Porifera, Coelenterata, Molusca, Arthropoda dan Echinodermata di Pantai Nganteb Kabupaten Malang-Malang Selatan telah diselesaikan. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada:
1.      Dosen pengampu mata kuliah Zoologi Invertebrata Bapak Mujahidin Ahmad, M.Sc dan Ibu Fitriyah, M.Si  yang telah mendampingi kami selama KKL
2.      Para asisten praktikum yang telah membing kami selama praktikum berlangsung
3.      Teman-teman satu jurusan Biologi angkatan 2013
4.      Para pendukung terlaksananya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini yang tidak bisa kami sebutkan satu perstu.
Laporan ini berisi sedikit keterangan morfologis dan anatomis dari spesies Porifera, Coelenterata, Molusca, Arthropoda dan Echinodermata di Pantai Nganteb Kabupaten Malang-Malang Selatan. Tim penulis sadar, bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, banyak informasi yang mungkin belum tersampaikan kepada pembaca, dan banyak kesalahan dari segi redaksional kata. Oleh karena itu, kami selaku tim penulis membuka kesempatan yang sebesar-besarnya bagi pembaca untuk memberikan kritik, saran, serta opini yang konstruktif demi kebaikan laporan ini. Besar harapan tim penulis agar laporan kami yang sederhana ini dapat memberikan manfaat positif bagi seluruh pihak yang membaca.

Malang, 18 November 2014

DAFTAR ISI







 



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu yang mempelajari tentang hewan atau Zoologi merupakan bagian dari Biologi. Biologi merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam, maka untuk pengembangan Zoologi perlu menggunakan cara pemecahan ilmiah. Langkah-langkah metode ilmiah mengobservasi, mempersoalkan, membuat hipotesis, melakukan eksperimen, dan menyusun teori.
Zoologi invertebrata merupakan salah satu cabang ilmu Biologi  yang kajiannya mencakup hewan tidak bertulang belakang. Habitat hewan invertebrata ini teradapat pada perairan tawar, laut dan daratan. Namun lebih dominan pada perairan aquatic terutama pada daerah lautan. Lautan merupakan rumah bagi kebanyakan filum hewan tersebut.
Pantai Nganteb adalah pantai selatan pulau Jawa yang berada di daerah Malang bagian selatan. Pemilihan Pantai Nanteb, sebagai obyek KKL (Kuliah Kerja Lapangan) bagi mahasiswa jurusan Biologi adalah didasarkan atas kekayaannya akan berbagai tipe ekosistem, seperti pantai pasang-surut, dan ekosistem terumbu karang tepi serta masih terdapat berbagi macam spesies hewan-hewan invertebrata yang merupakan objek utama dalam observasi Kuliah Kerja Lapangan ini. Di Pantai Nganteb ini dapat ditemukan ekosistem terumbu karang (coral reef ecosystem). Ekosistem tersebut terutama dibentuk oleh berbagai hewan karang hermatiphik (penghasil kapur) atau anggota dari Filum Coelenterata yang lain, berbagai Porifera, Echinodermata, Mollusca, Crustacea, Arthropoda dan beberapa jenis hewan anggota dari vertebrata.
Allah SWT telah menjelaskan dalam al-qur’an mengenai keanekaragaman hewan-hewan laut yang di dalamnya termasuk hewan invertebrate dalam surah An-nur ayat 41 yang berbunyi:
وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Kata-kata dari “hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya” ini menunjukkan bahwa Allah telah menciptakan hewan invertebrate dari filum molusca sebagai contoh adalah hewan-hewan kelas Gastropoda. Selain untuk membantu Mahasiswa dalam memahami hewan-hewan invertebrata dan mengenal langsung spesies yang diamati baik itu secara morfologi ataupun anatomi serta lebih mengenal habitat dari spesies yang diamati, yang melatarbelakangi dilaksanakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah tidak lain dan tidak bukan untuk mentafakkuri segala makhluk hidup ciptaan Allah SWT agar menambah kadar keimanan manusia kepada Allah SWT sebagi salah satu ciri manusia Ulul Albab.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan dari dilaksanakannya Kuliah Kerja lapangan (KKL) ini adalah sebagai berikut:
1.      Apakah spesies-spesies hewan invertebrata yang ditemukan di Pantai Nganteb-Malang Selatan?
1.      Bagaimanakah habitat dari masing-masing spesies hewan invertebrata yang ditemukan di Pantai Nganteb-malang Selatan?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dilaksanakannya Kuliah kerja Lapangan (KKL) ini adalah sebagai berikut:
2.      Untuk mengetahui spesies-spesies hewan invertebrata yang ditemukan di Pantai Nganteb-Malang Selatan
3.      Untuk mengetahui morfologi dari masing-masing spesies hewan invertebrata yang ditemukan di Pantai Nganteb-malang Selatan


4.       

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pantai Nganteb

Pantai Nganteb adalah sebuah pantai di pesisir selatan yang secara administratif berada di Dusun Sukorejo, Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur atau sekitar 72 km dari Kota Malang. Untuk mengunjungi Pantai Nganteb, Anda bisa mengikuti jalan menuju Pantai Balekambang, karena lokasinya sekitar 3,5 km ke arah timur sebelum masuk Pantai Balekambang. Pantai Nganteb ini terletak setelah Pantai Wonogoro jika dari arah Balekambang. Pantai Wonogoro berhimpitan dengan Pantai Nganteb.

2.2 Filum Porifera

           Hewan spons atau disebut juga sebagai kelompok porifera merupakan hewan multiseluler yang primitif. Tubuhnya tidak memiliki jaringan ataupun organ sesungguhnya. Semua hewan dewasa anggota dari filum porifera bersifat menempel atau menetap pada suatu dasar dan hanya menunjukkan sedikit gerakan. Kata porifera berasal dari bahasa latin, ponus berarti lubang kecil, sedangkan ferra berarti mengandung atau mengembang. Kata tersebut untuk menunjukkan akan kekhususan hewan yang bersangkutan, yaitu hewan yang memiliki banyak lubang-lubang kecil dan bila disingkat cukup disebut hewan berpori (Yusminah, 2007).
           Umumnya, hewan-hewan anggota filum Porifera hidup dilaut, dan hanya beberapa yang hidup dalam air tawar. Hewan-hewan itu tidak aktif, tidak bertangkai (tumbuh pada pangkalnya). Bunga karang mempunyai ruang sentral atau ruang gastral yang berfungsi sebagai kloaka. Ruang itu dikelilingi oelh dinding yang ditembus oleh sejumlah saliran yang tersusun majemuk. Ruang gastral itu terbuka pada ujung tubuh bunga karang. Muara ruang sentral disebut oskulum (Mukayat, 1989).
`         Ciri-ciri khusus tubuh porifera, yaitu tubuhnya memiliki banyak pori yang merupakan awal dari system kanal (saluran air) yang menghubungkan lingkungan eksternal dengan lingkungan internal. Tubuh porifera tidak dilengkapi dengan apa yang disebut apendiks dan bagian tubuh yang dapat digerakkan. Tubuh porifera belum memiliki saluran pencernaan makanan, adapun pencernannya berlangsung secara intraseluler. Tubuh porifera dilengkapi dengan kerangka dalam yang tersusun atas bentuk Kristal dari spikula–spikula atau bahan fiber yang terbuat dari bahan organik (Yusminah, 2007).
           Struktur tubuh Porifera kecuali berpori-pori dengan macam-macam bentuk, dibagi atas tiga tipe yaitu Ascon, Sycon atau Scypha dan Rhagon. Dari tipe Ascon yang berbentuk jambangan bunga yang merupakan tipe paling sederhana yang dilihat suatu rongga sentral yang disebut Spongocoel atau paragaster. Ujung atas dari jambangan terdapat lubang besar yang disebut osculum. Pada dinding tubuh hewan ini terdapat lubang-lubang kecil yang disebut porosofil atau pori dan sering juga disebut ostium. Dalam tubuh Porifera ditemukan sistem saluran air yang dimulai dari pori-pori atau porosofil dan diakhiri pada lubang keluar utama yang disebut oscolum. Sebelum air dikeluarkan melalui oskulum, maka air dari segala jurusan tubuh itu lebih dahulu ditampung di alam rongga sentral atau spongocoel. Pola saluran air dari berbagai jenis Porifera itu tidak sama, namun mempunyai fungsi pokok yang sama yaitu untuk mengalirkan air dari daerah eksternal ke dalam daerah internal dan dikeluarkan kembali ke daerah eksternal (Jasin, 1992: 89).
           Ukuran tubuh sangat bervariasi, beberapa jenis hewan ini bersimetris radial, tetapi kebanyakan tidak teratur ata asimetris. Struktur dasar dan histology dari spons dapat dengan mudah dimengerti dengan meneliti bentuk radial yang primitive. Struktur tipe sederhana disebut askanoid (menyerupai tabung kecil) contoh genus leucosolenia, umumnya tidak soliter, bagian permukaan tubuh berlubang–lubang kecil (Sugiarti, 2005: 20).Filum Porifera meliputi 10.000 species baik yang sudah menjadi fosil atau masih hidup. Porifera digolongkan menjadi tiga kelas dan 12 ordo yaitu sebagai berikut:
Kelas 1 Calcispongiae (kerangka tubuh atau spikula terbuat dari zat kapur)
Ordo 1 Asconosa, contoh Leucosolenia
Ordo 2 Syconosa, contoh Schypha
Kelas 2 Hyalospongiae, (kerangka atau spikulanya tersusun dari silica berjurus enam)
Ordo 1 Hexastirophora, contoh Euplextella
Ordo 2 Amphidiscophora, contoh Hyalonema
Kelas 3 Demospongiae (kerangka atau spikulanya tersusun dari silica berjurus 4)
Ordo 1 Carnosa, contoh Condorsia
Ordo 2 Coristida, contoh Geodia
Ordo 3 Epipolasida, contoh Rethya
Ordo 4 Handromerina, contoh Cliona
Ordo 5 Halichondrina, contoh Miciociona
Ordo 6 Poeciloclerina, contoh Haliclona
Ordo 7 Haplosclerina, contoh Haliclona
Ordo 8 Keratosa, contoh Spongia

2.3 Filum Coelenterata

Coelenterata berasal dari kata Yunani: koilos + enteron; Koilos = rongga, enteron = usus, sering disebut sebagai hewan berongga. Coelenterata merupakan hewan yang tidak mempunyai usus yang sesungguhnya, tetapi pemberian nama dengan istilah “Hewan Berongga” itupun masih belum tepat mengingat Coelenterata adalah hewan yang tidak mempunyai rongga tubuh yang sebenarnya (coelom), yang dimiliki hanyalah sebuah rongga sentral yang ada di dalam tubuh yang disebut coelenteron. Dalam kenyataan coelenteron merupakan alat yang berfungsi ganda, yaitu sebagai alat pencerna makanan dan sebagai alat pengedar sari-sari makanan ke seluruh sari-sari makanan ke seluruh bagian tubuh (Jasin, 1992).
Coelenterata memiliki dua lapisan sel, yaitu ektoderm (epidermis) dan endoderm (lapisan dalam atau gastrodermis). Ektoderm berfungsi sebagai pelindung sedang endoderm berfungsi untuk pencernaan. Sel-sel gastrodermis berbatasan dengan coelenteron atau gastrosol. Gastrosol adalah pencernaan yang berbentuk kantong. Makanan yang masuk ke dalam gastrosol akan dicerna dengan bantuan enzim yang dikeluarkan oleh sel-sel gastrodermis. Pencernaan di dalam gastrosol disebut sebagai pencernaan ekstraseluler. Hasil pencernaan dalam gasrosol akan ditelan oleh sel-sel gastrodermis untuk kemudian dicerna lebih lanjut dalam vakuola makanan. Pencernaan di dalam sel gastrodermis disebut pencernaan intraseluler.Sari makanan kemudian diedarkan ke bagian tubuh lainnya secara difusi. Begitu pula untuk pengambilan oksigen dan pembuangan karbondioksida secara difusi. Coelenterata memiliki sistem saraf sederhana yang tersebar benrbentuk jala yang berfungsi mengendalikan gerakan dalam merespon rangsangan. Sistem saraf terdapat pada mesoglea (Guru, 2008).
Selain itu, Coelenterata sering disebut dengan hewan berongga. Pemberian hewan berongga sebetulnya tidak tepat karena Coelenterata adalah hewan yang tidak memiliki rongga tubuh yang sebenarnya (acoelomata), akan tetapi yang dimiliki hanyalah sebuah rongga sentral yang disebut coelenteron (rongga gastrovaskuler, rongga tempat terjadinya pencernaan dan pengedaran sari-sari makanan) (Rusyana, 2011).
Coelenterata dibagi menjadi 3 kelas yaitu :
1.   Kelas Hydrozoa
Biasanya berbentuk koloni-koloni kecil dengan bentuk polip dominan, bahkan seluruh koloni mungkin hanya terdiri dari polip. Beberapa jenis polip membentuk medusa dengan jalan pembentukan tunas. Medusa mempunyai velum, yaitu bentukan serupa laci dalam payung. Pinggiran payung tidak bertakik (bercelah). Contohnya yaitu Hydra, Obelia, dan Gonionemus.
2.   Kelas Scyphozoa
Ubur-ubur yang sebenarnya adalah medusa-medusa dengan pinggiran yang berlekuk-lekuk, tidak ada cadar (velum), saluran radial bercabang-cabang, dan gonad-gonad dalam kantung-kantung ruang gastrikulum. Contoh Scyphozoa adalah Aurelia Aurita. Aurelia banyak terdapat disepanjang pantai laut Atlantik, dengan bagian tengah 7-10 cm, dengan pinggiran bertekuk-tekuk 8 buah. Ubur-ubur ada yang dapat mencapai garis tengah beberapa kaki (sampai 150 cm). bila dalam siklus hidupnya terdapat bentuk polip, maka polip itu merupakan keistimewaan yaitu sebagai subordinat. Polip bereproduksi secara seksual dengan proses strolobilasi, yaitu dengan pembentukan tunas-tunas terminal. Sedangkan reproduksi medusa adalah secara seksual.
3.   Kelas Anthozoa
Anggota-anggota anthozoa (Yunani anthos = bunga) adalah anemon-anemon laut dan hewan-hewan karang laut, tubuhnya berbentuk polip, tidak ada bentuk medusa. Hewan-hewan itu tidak bertangkai dan biasanya terbungkus dengan skeleton eksternal dan disebut karang. Memiliki banyak tentakel, tersusun dalam beberapa baris disekitar mulut. Mulut itu memanjang, bermuara kedalam tabung yang disebut stomodaeum. Stomodaeun itu memanjang sampai memasuki ruang gastrovaskular. Ruang gastrovaskular di bagi ke dalam beberapa kompartemen oleh pembatas-pembatas vertical. Reproduksi seksual atau aseksual. Gonad terletak disepanjang tepi-tepi internal mesentri (mukayat: 1989).
Coelenterata umumnya hidup di laut, hanya beberapa jenis yang hidup di air tawar. Dalam siklus hidupnya ia dapat berbentuk polip yaitu hidup menempel pada  suatu substrat atau berbentuk medusa yang bebas berenang. Bentuk polip tubuhnya berbentuk silindris, bagian proksimal melekat, bagian distal mempunyai mulut yang dikelilingi tentakel. Mulut bermuara ke dalam rongga gastrovaskuler atau enteron yang berfungsi untuk mencerna makanan dan mengedarkan sari-sari makanan. Medusa umumnya berbentuk seperti paying atau lonceng, tentakel menggantung pada permukaan paying. Tentakel berfungsi untuk menangkap makanan, alat gerak dan mempertahankan diri. Susunan saraf berupa anyaman sel-sel saraf yang tersebar secara difusi. Coelenterata merupakan hewan yang belum memiliki anus. Coelenterata termasuk hewan diploblastis, yaitu memiliki dua lapisan lembaga berupa ectoderm dan endoderm. Dinding tubuh terdiri atas epidermis dan gastrodermis, dan diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan mesoglea. Baik epidermis, maupun gestrodermis dilengkapi dengan sel-sel jelatang, deman didalamnya terdapat kantung yang berisis racun dan dilengkapi dengan alat penyengat dan disebut nematosit yang berfungsi sebagai alat pertahanan, melumpuhkan mangsanya, dan terlibat  dalam proses pencernaan (mukayat, 1989).
Terdapat sekitar 9500 species pada filum coelenterata. Kebanyakan hidup di laut, dan hanya 14 species dari kelas hydrozoah hidup di air tawar. Hewan-hewan pada filum coelenterata kebanyakan ditemukan di perairan dangkal dan melekat pada substrat dan terumbu karang. Coelenterata hidup sejak periode cambitan sampai sekarang. Filum ini pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 3 kelas, yaitu:
Kelas 1 Hydrozoa                                                 
Ordo 1 Hidroidea, contoh Hydra
Ordo 2 Hydrocorallina, contoh Stylanteca
Ordo 3 Trachylina, contoh Millephora
Ordo 4 Siphonophora, contoh Vileila
Kelas Schypozora
Ordo 1 Stauromedusae, contoh Haliclystus
Ordo 2 Cubomedusae, contoh Tamoya
Ordo 3 Decomeduse, contoh aurellia aurita
Kelas Anthozoa
Sub Kelas Alcyonaria
Ordo 1 Stolonifera, contoh Clavularia
Ordo 2 Talestacea, contoh Telesto
Ordo 3 Alqinacea, contoh Xenia
Ordo 4 Cucnutheclia, contoh Heliphora
Ordo 5 Gorgonacea, contoh Gorgonea
Ordo 6 Pennatolocea, contoh Pennatula
Sub Kelas Zoantera
Ordo 1 Actinaria, contoh Mettridium
Ordo 2 Madreponaria, contoh Fungia

2.4 Filum Mollusca

Mollusca adalah hewan bertubuh lunak, biasanya badan ditutupi oleh cangkang atau cocha. Ciri-ciri umum tidak bersegmen, bilateral simetri, triplobastik, tubuh lunak, dilindungi pallium (mentel) bagian tubuh anterior adalah kepala, bagian ventral adalah kaki muskuler dan bagian dorsal adalah masa piscera, saluran pencernaan makan lengkap dan glandula digestoria dan glandula salivaria, mulut dilengkapi dengan radula. Saluran pencernaan makanan kadang-kadang mengalami torsi, respirasi dengan insang, paru-paru (dalam cavum palii), hidup tertestrial atau aquatic (Campbell, 2005).
Bentuk cangkang siput pada umumnya seperti kerucut dari tabung yang melingkar seperti konde (gelung, whorl). Puncak kerucut merupakan bagian yang tertua, disebut apex. Sumbu kerucut disebut columella. Aperture ialah bukaan cangkang, tempat tersembulnya kepala dan kaki. Bila aperture dihadapkan pada kita dengan apex (puncak) keatas, dinamakan dekstral, apabila aperture disebelah kanan, dan  disebut sinistral apabila aperture disebelah kiri. Lapisan  kalsium karbonat terdiri atas 3 lapisan/lebih, yang terluar adalah prismatik, palisade, lapisan tengan/lamella dan paling dalam adalah lapisan nacre/hypostracum. Lapisan prismatik terdiri atas kristal calcyte yang tersusun vertikal, masing-masing diseliputi matriks protein yang tipis. Pada telapak kaki gastropoda terdapat cilia dan berbagai sel kelenjar. Kelenjar pada kaki menghasilkan lendir yang berguna untuk merayap pada substrat (Jasin, 1992).
Mollusca tersebar luas dalam habitat laut, air tawar dan darat. Tetapi lebih banyak terdapat di lautan. Mollusca mempunyai sistem digesti, respirasi, ekskresi dan reproduksi yang kompleks. Mollusca berdasarkan simetri, kaki cangkok, mantel, insang dan sistem syarafnya terbagi atas lima kelas, yaitu (Kastawi, 2005) :
1.      Amphineura, contoh : Chiton. Tubuhnya bilateral simetri, cangkok terdiri atas 8 kepingan kapur yang mempunyai banyak serabut- serabut insang yang berlapis- lapis.
2.      Gastropoda, contoh : Siput, bekicot dan lain-lain.
3.      Scapopoda, cangkok seperti kerucut atau tanduk. Ujung cangkok berlubang dan bermantel.
4.      Cephalopoda, contoh : Cumi-cumi, Gurita, Nautilus dan sebagainya. Tubuhnya bilateral, kakinya berubah menjadi lengan yang beralat penghisap. Sistem syarafnya berkembang dipusatkan di kepala.
5.      Pelecypoda, contoh : Kerang, Tiram, Kepah, Remis dan sebagainya. Tubuhnya bilateral simetris. Cangkok terdiri atas 2 bagian yang dihubungkan oleh engsel dan mantel, juga terbagi atas dua bagian.
Sebagian besar moluska hidup di laut tetapi banyak juga yang hidup di air tawar bahkan beberapa hidup di darat. Mollusca terbagi menjadi 7 kelas, yaitu:
Kelas Aplacophora
Ordo 1 Neomeniodea, contoh Lepidomenia
Ordo 2 Chaetodermatiodea, contoh Chaetoderma
Kelas Monoplacophora,
Contoh Neophilina Galathea
Kelas Polyplacopora
Ordo 1 Lepidoplurida, contoh Lepidopleurus
Ordo 2 Chitoneda, contoh Chiton
Kelas Scaphopoda, Contoh: Dentalium
Kelas Gastropoda
Sub kelas 1 Prosobranchia, contoh Nerita babylonia
Sub kelas 2 Ophistobranchia, contoh Bulla aplysia elysia
Sub kelas 3 Pulmonata, contoh Achatina fulica limax lymnaina
Kelas Pelecypoda atau Bivalvia
Sub kelas 1 Paleotaxodonta, contoh Nucula yoldia
Sub kelas 2 Paleohorodonta, copntoh Anodonta
Kelas Chepelopoda
Sub kelas 1 Nauttilodea, contoh Nautilus
Sub kelas 2 Ammonoidea, contoh Ammonitas
Sub kelas 3 Colodea, contoh Sepia dan Loligo

2.5 Filum Arthropoda

Kata Arthropoda dari bahasa Yunani yaitu Arthros berarti sendi (ruas) dan Podos berarti kaki. Jadi arthropoda adalah hewan yang mempunyai kaki bersendi-sendi (beruas-ruas). Hewan ini banyak ditemukan di darat, air tawar, dan laut, serta didalam tanah. Hewan ini juga merupakan hewan yang paling banyak jenis atau macam spesiesnya, lebih kurang 75% dari jumlah keseluruhan spesies hewan di dunia yang telah diketahui (Setiati, 2012).
Segmen terdapat juga ditubuhnya. Tubuh Arthropoda merupakan simetri bilateral dan tergolong triplobastik selomata. Ukuran dan bentuk tubuh sangat beragam, beberapa diantaranya memiliki panjang lebih dari 60 cm, namun kebanyakan berukuran kecil. Begitu pula dengan bentuk Arthropoda pun beragam. Tubuh Arthropoda bersegmen dengan jumlah segmen yang bervariasi. Pada tiap segmen tubuh tersebut terdapat sepasang kaki yang beruas. Segmen bergabung membentuk bagian tubuh, yaitu kaput (kepala), toraks (dada), dan abdomen (perut). Atrhropoda ditemukan adanya kutikula keras yang membentuk rangka luar (eksoskeleton). Eksoskeleton tersusun dari kitin yang disekresikan oleh sel kulit. eksoskeleton melekat pada kulit membentuk perlindungan tubuh yang kuat. Eksoskeleton terdiri dari lempengan yang dihubungkan oleh ligamen yang fleksibel dan lunak. Eksoskeleton tidak dapat membesar mengikti pertumbuhan tubuh. Oleh karena itu, tahap pertumbuhan. Arthropoda selalu di ikuti dengan pengelupasan eksoskeleton lama dan pembentukan eksoskeleton baru. Tahap pelepasan eksoskeleton disebut dengan molting atau ekdisis. Hewan yang biasanya melakukan ekdisis misalnya kepiting, udang, dan laba-laba (Erwin, 2010).
Filum Arthropoda saat ini yang paling spesies- beragam filum dalam kerajaan hewan, terdiri dari lebih tiga–perempat dari semua spesies yang dikenal. Approximatelly 1.100.000 spesies Arthropoda telah direkam, dan kemungkinan bahwa lebih banyak tetap harus diklasifikasikan. Pada kenyataannya, berdasarkan survei fauna serangga di kanopi hutan hujan, banyak perkiraan spesies belum terdekskripsikan jauh lebih tinggi. Arthropoda termasuk laba-laba, kalajengking, kutu, tungau, krustasea, kaki seribu, lipan, serangga, dan lainnya kurang baik–kelompok terkenal. Selain itu, ada catatan fosil yang kaya meluas ke masa prakambium sangat terlambat. Arthropoda adalah prostomes eskolomate dengan baik sitem organ di kembangkan, dan mereka berbagi dengan Annelida miliki segmentasi mencolok. Namun, analisis molekuler terbaru komparatif menunjukkan bahwa Annelida, dan arthropoda berevolusi dari nenek moyang yang berbeda (Roberts, 2006).
1.      Kelas Arachnidae
Ukuran tubuh arachnidae bervariasi dari 0,5 sampai 9 cm. arachnida meruppakan hewan terrestrial yang hidup secara bebas maupun parasit. Contih hewan kelas ii adalah laba-laba, kalajengking, dan tungau. Hewan-hewan tersebut tidak memiliki antenna dan rahang sesungguhnya. Tubuh memiliki sebuah cefalotoraks dan abdomen serta pasangan pertama apendiks adalah kalisera (Kastawi, 2005).



2.      Kelas Chilopoda
Tubuh pipih dorso-ventral dan terdiri atas 15 sampai 173 segmen. Pada setiap segmen tubuh terdapat sepasang kaki kecuali dua segmen terakhir dan satu segmen tepat di belakang kepala. Di daerah kepala terdapat sepasang antenna panjang yang sedikitnya tersusun atas 12 segmen, sepasang mandibula dan dua pasang maksila (Kastawi, 2005). Contoh dari hewan kelas ini adalah Lithobius forficatus.
3.      Kelas Diplopoda
Tubuh hewan kelas ini bulat panjang. Mulutnya terediri dari dua pasang maksila dan bibir bawah. Pada setiap segmen tubuhnya terdapat dua pasang kaki dan dua pasang spirakel. Hewan ini bersifat herbifora dan pemakan sisa oraganisme. Gerakan hewan ini lambat dengan kaki yang bergerak seperti gelombang. Bila terganggu hewan ini akan menggulung tubuhnya dan pura-pura mati. Contoh hewan dari kelas ini adalah kaki seribu.
4.      Kelas Crustacea
Crustacean memiliki kulit yang keras, memiliki habitat di air laut, air tawar dan payau. Permukaan tubuh dilindungi oleh kutikula yang tersusun dari zat kitin ditambah garam-garam mineral yang sangat keras. Eksoskeleton menutupi seluruh permukaan tubuh kecuali pada rempat perhubungan yang menjadi tipis dan lunak agar mampu bergerak (Kastawi, 2005). Tubuhnya terdiri dari dua bagian yaitu kaput dan toraks yang menyatu membentuk sefalotoraks serta abdomen. Contoh hewan dari kelas ini adalah lobster, udang dan kepiting.
5.      Kelas Insekta
Insekta memiliki cirri-ciri kakinya berjumlah enam buah. Insekta dapat hidup di berebagai habitat yaitu air tawar, air laut, dan darat. Insekta ada yang hidup bebas maupun parasit. Tubuh insekta terbagi atas tiga bagian kaput, thoraks, dan abdomen. Insekta merupakan satu-satunya invertebrate yang dapat terbang. Contoh: kupu-kupu, nyamuk, lebah, dan lalat.

2.6 Filum Echinodermata

Echinodermata memiliki ciri yang khas yakni bersifat simetri radial dengan penguat tubuh dari zat-zat kapur dengan tonjolan duri-duri. Kelompok organisme ini semuanya hidup di laut. Pergerakan dari echinodermata termasuk lambat, gerakannya diatur oleh tekanan hidrostatis atau system vaskuler air. System saraf terdiri dari cincin oral dan tali-tali saraf radial. Sistem ekskresi pada Echinodermata tidak ada sehingga fungsi ekskresi dilakukan melalui penonjolan kulit (brank/papula). Bentuk tubuh, struktur anatomi dalam fisiologi echinodermata sangat khas. Bentuk tubuh simetri radial 5 penjuru, meskipun echinodermata termasuk divisi Bilateria. Sebenarnya pada waktu larva mempunyai bentuk tubuh simetri bilateral dan hidup sebagai plankton, tetapi pada akhir stadium larva mengalami metamorfosa menjadi simetri radial. Echinodermata tidak mempunyai kepala; tubuh tersusun dalam sumbu oral-aboral. Tubuh tertutup epidermis tipis yang menyelubungi rangka mesodermal. Rangka di dalam dan terdiri atas ossicle atau pelat-pelat kapur yang dapat digerakkan atau tidak dapat digerakkan. Bentuk dan letak osscile tiap jenis adalah khas. Rongga tubuh luas dan dilapisi peritoneum bercilia dalam perkembangannya sebagian rongga tubuh menjadi system pembuluh air, suatu organ yang tidak terdapat pada avetebrata lain (Maskoeri, 1992).
           Echinodermata terbagi atas 5 kelas, yaitu kelas Asteroidea (bintang laut), tubuhnya berbentuk bintang dengan 5 lengan, permukaaan tubuh pada bagian dorsal atau aboral terdapat duri-duri. Pada sekitar duri terdapat modifikasi duri berupa penjepit, yang berfungsi melindungi insang dermal, mencegah serpihan-serpihan dan organisme kecil agar tidak tertimbun di permukaan tubuh, juga untuk menangkap mangsa. Berikutnya kelas Ophiroidea (bintang ular) memiliki bentuk tubuh bola cakram kecil dengan 5 lengan bulat panjang. Pada lengan terdapat saluran coelom kecil, batang saraf, pembuluh darah dan cabang-cabang system vascular. Pada lengan juga terdapat kaki ambulakral yang sering disebut tentakel dengan alat hisap. Kelas Echinoidea, landak laut yang berbentuk bulat , tidak berlengan, tapi memiliki duri. Vicera tersimpan dalam cangkok yang berbentuk bola. Anus terdapat pada permukaan aboral, mulut terletak pada bagian oral yang dikelilingi oleh 5 buah gigi yang kuat dan tajam.  Kelas berikutnya Holothuroida, mentimun laut memiliki tubuh bulat memanjang mengandung ossicula yang mikroskopis. Bagian anterior terdapat mulut dan 10-30 tentakel yang dapat dijulurkan dan tertarik kembali. Kaki ambulakral terletak pada daerah ventral yang memiliki alat hisap yang berfungsi untuk bergerak (Mukayat, 1989).
           Sistem pembuluh air berfungsi untuk menggerakkan kaki tabung dengan cara mengatur masuk keluarnya air air laut melalui madreporit. Kontraksi ampula mengatur volumeair dalam kaki tabung, berarti mengatur gerak kaki tabung. Tergantung jenisnya, kaki tabung juga berfungsi untuk merayap, berpegang pada substrat, memegang mangsa atau membantu pertukaran gas O­­2 dan CO2. Alat pernapasan utama echinodermata adalah insang kulit yang merupakan perluasan rongga tubuh keluar melalui lubang-lubang kecil di antara ossicle kapur. Rongga tubuh berisi cairan getah bening, mengandung amebocyt yang berkepentingan dalam peredaran darah, pernapasan dan ekskresi (Rusyana, 2011).
Filum Echinodermata dibagi 5 kelas, yaitu:
Kelas Asterroidea
Ordo 1 Platisterida, contoh Planester
Ordo 2 Hemizonida, contoh Taericatis
Ordo 3 Phanerozonia, contoh Ctenodiscus
Ordo 4 Spinolusa, contoh Asterina
Ordo 5 Forcipulata, contoh Plynopodia
Kelas Ophiureidhea
Ordo 1 Ophiurae, contoh Ophirotrix
Ordo 2 Eurialae, Gorgonopodia
Kelas Echinoidea
Ordo 1 Lepidocentroida, contoh Arbacia
Ordo 2 Camodonta, contoh Echinocerdium
Ordo 3 Spangoida, contoh Echinocerdium
Kelas Holothuroida
Ordo 1 Asphidochirota, contoh Holothuroida
Ordo 2 Elasipoda, contoh Plagothuroida
Ordo 3 Dundrothuroida, contoh Cucumaria
Ordo 4 Apoda , contoh Leptosihapta
Kelas Crinoidea
Ordo 1 Innadunata
Ordo 3 Articulata

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Zoologi Invertebrata ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 15 November 2014 pada pukul 06.00-16.00 WIB. Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini dilaksanakan di Pantai Nganteb, Kabupaten Malang-Malang Selatan

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat
Alat-alat yang di gunakan pada Kuliah Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut:
1.      Botol atau Toples Penyimpanan Spesies               5 buah
2.      Sendok atau Alat Pencongkel                               2 buah
3.      Jaring                                                                     1 buah
4.      Kertas Label                                                          5 buah
5.      Camera atau Alat Dokumentasi                            1 buah
6.      Tissu                                                                      secukupnya
7.      Lakban atau Selotip                                              secukupnya
8.      Plastik                                                                   secukupnya
3.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada Kuliah Kerja Langan (KKL) ini adalah sebagai berikut:
1.      Alkohol 95%                                                        secukupnya
2.      Spesies dari Porifera                                            secukupnya
3.      Spesies dari Coelenterata                                     secukupnya
4.      Spesies dari Molusca                                            secukupnya
5.      Spesies dari Arthropoda                                      secukupnya
6.      Spesies dari Echinodermata                                 secukupnya
7.      Air Tawar                                                             secukupnya

3.3 Cara Kerja

Adapun cara kerja dari Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah sebagai berikut:
3.3.1 Pengambilan Sampel atau spesies
1.      Ditentukan tempat pengambilan sampel atau spesies yaitu di balik karang
2.      Disiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk mengambil sampel atau spesies
3.      Diambil sampel atau spesies dari filum Porifera dengan menggunakan jaring
4.      Dimasukkan sampel atau spesies yang didapatkan ke dalam toples yang disediakan
5.      Diambil sampel atau spesies dari filum Coelenterata dengan menggunakan jaring
6.      Dimasukkan sampel atau spesies yang didapatkan ke dalam toples pertama
7.      Diambil sampel atau spesies dari filum Molusca dengan menggunakan sendok atau alat pencongkel lainnya
8.      Dimasukkan sampel atau spesies yang didapatkan ke dalam toples kedua
9.      Diambil sampel atau spesies dari filum Arthropoda dengan menggunakan jaring
10.  Dimasukkan sampel atau spesies yang didapatkan ke dalam ketiga
11.  Diambil sampel atau spesies dari filum Echinodermata dengan menggunakan jaring
12.  Dimasukkan sampel atau spesies yang didapatkan ke dalam toples kelima
13.  Disimpan dalam botol yang berbeda dan diisi air laut
3.3.2 Pemindahan Sampel atau spesies
v  Sampel non Crustacea
1.      Diambil air tawar secukupnya
2.      Dikeluarkan sampel dari toples kemudian dicuci dengan air tawar tersebut
3.      Dicuci toples dengan air bersih
4.      Dimasukkan sampel kedalam toples dan ditambahkan Alkohol 95% secukupnya
5.      Ditutup botol dengan rapat
6.      Dipastikan tidak lubang dalam toples dan dipastikan tidak ada udara yang masuk dalam toples
v  Sampel Crustacea
1.      Diambil sampel Crustacea
2.      Dicuci dengan air bersih
3.      Dirapatkan kaki-kainya
4.      Dibungkus menggunakan tisu untuk merapatkan kakinya
5.      Dimasukkan kedalam toples
6.      Ditambahkan alkohol 95% persen secukupnya sampai sampel terandam alkohol
7.      Ditutup toples dengan rapat dan dipastikan tidak ada lubang pada toples
8.      Disimpan selama satu sampai dua hari
3.3.3 Pengawetan Sampel atau spesies
1.      Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pengawetan sampel
2.      Dikeluarkan sampel atau spesies dari toples
3.      Dibersihkan atau dicuci sampel dengan air bersih
4.      Dicuci toples dengan air bersih dan dikeringkan
5.      Disiapkan botol kaca sebagai tempat pengawetan
6.      Dimasukkan sampel atau spesies dalam botol kaca
7.      Ditambahkan alkohol 95% secukupnya
8.      Ditutup botol kaca dengan rapat dan dipastikan tidak ada jalan oksigen untuk masuk
9.      Diberi keterangan waktu dan tempat pengambilan sampel
10.  Diberi keterangan klasifikasi pada botol kaca berisi sampel atau spesies.
11.  Disimpan spesimen dalam laboratorium

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Salp sp

4.1.1        Hasil Pengamatan
Gambar Pengamatan
Gambar Pengamatan


Moran, 2013

Klasifikasi:
Kingdom: Animalia
Filum: Urochordata
Class: Thaliaceae
Ordo: Salpida
Family: Salpidae
Genus: Salp
Spesies: Salp sp   (Myers. 2014)
4.1.2        Pembahasan
Hewan ini memiliki bentuk tubuh yang sangat lunak berlendir. Termasuk dalam Filum Urochordata yaitu hewan antara invertebrate dan vertebrata.  Salp bergerak dengan memompa air melalui tubuh agar-agarnya. Dan makanan dari salp ini adalah fitoplankton.
Salps memiliki siklus hidup yang kompleks, dengan pergantian generasi. Salp sebagian besar tubuhnya transparan, tubular, hewan agar-agar ini memiliki tinggi biasanya antara 1 dan 10 cm (0,39 dan 3,94 in). Fase sejarah hidup soliter, juga dikenal sebagai oozoid, hewan ini bereproduksi secara aseksual dengan memproduksi rantai. Rantai salps adalah bagian dari 'agregat' siklus hidup. Individu-individu agregat juga dikenal sebagai blastozooids; mereka tetap melekat bersama-sama saat berenang dan makan. Setiap blastozooid dalam rantai bereproduksi secara seksual (yang blastozooids adalah hermafrodit berurutan, pertama jatuh tempo sebagai perempuan, dan dibuahi oleh gamet jantan dihasilkan oleh rantai yang lebih tua), dengan embrio yang berkembang oozoid melekat pada dinding tubuh induk. Para oozoids tumbuh pada akhirnya dilepaskan dari blastozooids induk, dan kemudian melanjutkan untuk memberi makan dan tumbuh sebagai fase aseksual soliter, sehingga menutup siklus hidup salps.
Salah satu alasan untuk keberhasilan salps adalah bagaimana mereka menanggapi fitoplankton mekar. Ketika makanan berlimpah, salps dapat dengan cepat bertunas dari klon, yang merumput fitoplankton dan dapat tumbuh pada tingkat yang mungkin lebih cepat daripada hewan multiseluler lainnya. Tetapi jika fitoplankton terlalu padat, salps dapat menyumbat dan tenggelam ke dasar. Selama mekar ini, pantai dapat menjadi berlendir dengan tikar tubuh salp, dan spesies plankton lainnya dapat mengalami fluktuasi jumlah mereka karena persaingan dengan salps.

4.2  Pyrosoma sp

4.2.1 Hasil Pengamatan
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur



Bryant, 2009

Klasifikasi:
Kingdom: Animalia
Filum: chordata
Class: Thaliaceae
Ordo: Pyrosomida
Family: Pyrosomidae
Genus: Pyrosoma
Spesies: Pyrosoma sp        (Myers. 2014)
4.2.3        Pembahasan
Sebuah koloni Pyrosoma atlanticum adalah silinder dan dapat tumbuh hingga 60 cm (2 kaki) dan 4-6 cm lebar. Para zooids konstituen membentuk tabung kaku, yang mungkin merah muda pucat, kekuningan, atau kebiruan. Salah satu ujung tabung sempit dan tertutup, sementara yang lain terbuka dan memiliki diafragma yang kuat. Permukaan luar atau tes gelatinised dan berlesung pipit dengan mundur-menunjuk, proses tumpul. Para zooids individu hingga 8,5 mm (0,3 in) panjang dan memiliki, kantung branchial bulat lebar dengan celah insang. Sepanjang sisi kantung branchial menjalankan endostyle, yang memproduksi filter lendir. Air bergerak melalui celah insang ke pusat silinder oleh silia berdenyut berirama. Plankton dan makanan lainnya partikel terjebak dalam filter lendir dalam proses sebagai koloni didorong melalui air. Pyrosoma atlanticum adalah bioluminescent dan dapat menghasilkan cahaya biru-hijau brilian ketika dirangsang.
Pyrosoma atlanticum ditemukan di perairan beriklim di seluruh lautan di dunia, biasanya antara 50 ° N dan 50 ° S. Hal ini paling banyak pada kedalaman di bawah 250 m (800 kaki). [4] Koloni adalah pelagis dan bergerak melalui kolom air. [2] Mereka menjalani migrasi diurnal besar, naik ke permukaan di malam hari dan turun sekitar subuh. Koloni besar akan naik melalui jarak vertikal dari 760 m (2.500 kaki) setiap hari, dan bahkan koloni kecil beberapa milimeter panjang dapat menutupi jarak vertikal 90 m (300 kaki).


4.3      Nerita plicata

4.3.1 Hasil Pengamatan
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur


Reeve, 1825

Klasifikasi:
Kingdom: Animalia
Filum: Molusca
Class: Gastropoda
Ordo: Neritimorpha
Family: Neritidae
Genus: Nerita
Spesies: Nerita plicata  (Myers. 2014)
4.3.2        Pembahasan
Nerita merupakan family Neritidea, bagian dari kelas gastropoda yang terdistribusi secara luas di wilayah tropis. Nerita merupakan siput dengan bentuk primitive. Menurut Rusyana (2011) Secara morfologi Gastropoda terdiri dari cangkang sebagai pelindung, bentuk cangkang yang berbentuk asimetri dan silinder akibat mengalami torsi yaitu peristiwa memutarnya cangkang beserta mantel, rongga mantel dan massa visceral sampai 180o berlawanan arah jarum jam terhadap kaki dan kepala. Tubuhnya pada umumnya dibagi menjadi dua bagian utama yaitu: (1) kepala berfungsi kaki, (2) mantel terdiri termasuk cangkang, rongga mantel (mantle cavity), dan massa visceral.  Kaki muscular sebagai organ digunakan untuk bergerak Kebanyakan gastropoda, utamanya untuk merayap, melekat, atau meliang.  Anatomi spesies gastropoda terdiri dari atas kepala diamana terdapat organ pengindera (tentakel dan mata).  Di dalam rongga cangkang yang terletak antara antara kepala-kaki dengan mantel adalah rongga mantel, dimana ctenidium, osphradium, anus, nephridiopore dan external genitalia berada.  Massa visceral berada pada bagian posterior yang berisi alat reproduksi (gonat), kelenjar pencernaan, hati, ginjal, dan bagian system alimentary. 
Cara makan gastropoda beraneka ragam, ada diantara spesies yang bersifat predator, pemakan bangkai, penyaring dan pemakan serasa.  Demikian pula dengan habitatnya yang beraneka ragam, mereka mulai hidup pada perairan lingkungan laut ( asin-payau), distribusinya mulai dari daerah litoral hingga dasar perairan dalam.
Secara spesifik spesies Nerita terdiri dari sepasang insang bipectinate, cangkang dan operculum, dan memiliki alat kelamin yang terpisah. proses pembuahan (fertilisasi) Nerita terjadi secara internal.  Mengidentifikasi jenis kelamin Nerita dapat dilakukan degan cara melihat munculnya penis yang berbentuk segi tiga di sebelah kanan tentakelnya. 
Penyebaran jenis dari Nerita plicata hampir dapat ditemukan di setiap perairan dengan salinitas laut estuaria (payau), dan juga ditemukan di perairan tawar. Dimana hampir seluruh spesies ini ditemukan di perairan tropis (perairan hangat), dan ada beberapa ditemukan di perairan dengan suhu dingin.









4.4 Nerita lineata

4.4.1 Hasil pengamatan
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur


Reeve, 1825

Klasifikasi:
Kingdom: Animalia
Filum: Molusca
Class: Gastropoda
Ordo: Neritimorpha
Family: Neritidae
Genus: Nerita
Spesies: Nerita lineata  (Myers. 2014)

4.4.2        Pembahasan
Sama halnya dengan Nerita plicata, Nerita lineata merupakan Filum Molusca dari kelas gastropoda yang memiliki cangkang berwarna hitam. Pada Nerita lineata model cangkang seperti globose bola tertekan atau oval dengan bagian yang rata, lebar cangkang lebih besar daripada panjang cangkang dan sangat keras/padat. Corak dan tipe pada cangkang (sculpture) tidak terlalu dalam, berbentuk element-element spiral. Perwarnaan cangkang Nerita berbeda tiap spesiesnya, hal ini disebabkan adanya perbedaan kondisi lingkungan.  Model dan bagian-bagian organnya terdiri dari Aperture (bukaan cangkang) bagian dorsal berbentuk seperti huruf  D, variasi warna operculum warnanya berkisar dari hitam sampai kehitam-hitaman juga warna pinggiran kemerahan, bagian ini terdiri dari bagian posterior dari outer lip (tepi/ujung dari bagian luar aperture) dan parietal (wilayah di bagian dalam aperture) biasanya bergerigi kuat. Pada bagian inner lip terdapat 1 sampai 4 buah gigi berwarna putih dengan bentuk seperti proyeksi.  Operculum  berupa calcareous (bersifat keras), dengan pasak seperti proyeksi (projecting peg) pada bagian ujung dalam.
Spesies Nerita lineata pada umumnya ditemukan secara berkelompok/bergerombol dengan populasi yang beragam dan berada dalam jumlah besaran juga ukuran waktu dan kondisi berbeda pula. Spesies ini membentuk koloni sebagai komunitas yang mendiami daerah pantai-pantai berbatu terutama pada zona tengah sampai tertinggi dari intertidal hingga pada daerah atas (supralitoral) yang masih dipengaruhi oleh pasang surut dan juga pada rataan karang (reef flats). Berdasarkan habitat perairan Komunitas ini dapat dijumpai pada perairan dengan zona berbeda (laut, payau dan tawar).

4.5 Chiton

4.5.1 Hasil Pengamatan
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur


Wikipedia, 2006

Klasifikasi:
Kingdom: Animalia
Filum: Molusca
Class: Polyplacopora
Ordo: Chitonida
Family: Chitonidae
Genus: Chiton
Spesies: Chiton sp (Plantamor, 2007)
4.5.2        Pembahasan
Chiton merupakan hewan molusca dalam kelas Polyplacopora yang memiliki bentuk tubuh bulat telur, pipih, dan simetris bilateral. Mulut tidak berkembang baik dan terletak di bagian kepala (anterior), sedangkan anus terletak di posterior. Hewan ini tidak memiliki tentakel dan mata. Permukaan dorsal tubuhnya tertutup mantel yang dilengkapi delapan kepingan kapur yang mengandung berlapis-lapis serabut insang. Kadang-kadang kepingan itu dibungkus lapisan kitin. Saluran mantel terdapat di tepi tubuh. Kakinya pipih dan biasanya memiliki lidah parut (radula).
Menurut Shafrie (1989) Bentuk tubuh "chiton" umumnya oval dan memipih. Bagian tengah tubuh sebelah atas ditutupi oleh 8 buah lempengan plat yang keras (mirip cangkang kura-kura), tersusun logitudinal secara tumpang tindih. Mulut terletak di ujung anterior pada tubuh bagian bawah, sedangkan anusnya terletak di bagian posterior. Kepala tidak jelas terlihat letaknya karena tertutup oleh cangkang. Di bagian ventral terdapat otot memanjang yang berfungsi sebagai kaki. "Chiton" dapat merasakan apa yang terjadi disekelilingnya, karena memiliki organ perasa yang disebut "aesthetes". "Aeshtetes" ini terletak di dalam cangkangnya Organ ini memiliki kepekaan terhadap cahaya. Panjang tubuh "chiton" bervariasi antara 3 mm sampai 300 mm. "Chiton" merupakan hewan berumah dua (dioecious), akan tetapi agak sulit untuk membedakan antara "chiton" jantan dan  "chiton" betina. Selain berkelamin jantan atau betina diketahui pula bahwa ada sebagian "chiton" yang bersifat hermafrodit (dalam satu individu   terdapat   testes   dan   ovarium).
Menurut Sjafrie (1989) Semua "chiton" hidup di perairan laut, menempati zona litoral, terutama daerah intertidal. Hanya beberapa jenis yang ditemukan pada kedalaman 1,15 meter, yaitu anggota-anggota suku dari anak bangsa Lepidopleurina. Hidup menempel, melekat erat pada permukaan batu-batuan dengan bantuan otot dorso-ventral, atau merayap pada permukaan terumbu karang. Pada batuan keras biasanya "chiton" menggali lubang untuk membenamkan dirinya, sehingga amat sulit bagi kita untuk mengambilnya. "Chiton" yang hidup di daerah pantai memiliki beberapa pola tingkah laku, yang meliputi kepekaan terhadap cahaya, gravitasi dan kelembaban. Dari beberapa penelitian

4.6 Colobocentrotus ototrus

4.6.1 Hasil Pengamatan
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur


Ichi, 2009
             
Klasifikasi:
Kingdom: Animalia
Class: Echinoidea
Ordo: Echinoida
Spesies: Colobocentrotus atratus   (Myers, 2014)
4.6.2        Pembahasan
Sirap landak atau landak helm (Colobocentrotus atratus) adalah spesies landak laut dalam keluarga Echinometridae. landak ini adalah warna merah marun yang mendalam dan berbentuk seperti kubah limpet. Hal ini dapat tumbuh sebesar bola lembut tapi biasanya jauh lebih kecil. Permukaan atas adalah mosaik piring poligonal kecil terbentuk dari duri dimodifikasi untuk membentuk mosaik halus. Hal ini dibatasi oleh cincin besar, rata duri dimodifikasi. Di bagian bawah ada cincin lain duri diratakan kecil dan sejumlah besar kaki tabung.
Menurut Vimono (2007) Landak laut adalah hewan yang hanya hidup di laut dan memiliki tubuh simetri pentaradial, serta memiliki endoskeleton berupa kerangka kapur. Landak laut memiliki duri yang jelas, namun pada beberapa jenis termodifikasi menjadi bentuk semacam perisai, contohnya adalah Colobocentrotus atratus.  Landak laut seperti halnya Ekhinodermata lainnya, juga memiliki  tube feet  atau kaki tabung yang merupakan bagian dari sistem kanal. Pada landak laut terdapat  pedicellaria  yang merupakan organ yang dimiliki pula oleh bintang laut. Landak laut juga memiliki sistem rahang dan gigi yang unik yang disebut Aristotles lantern.
Landak ini biasanya ditemukan pada substrat sepenuhnya terkena gelombang dan efek abrasif mereka terkait, sering dalam kelompok. Ini memakan siput, landak lain dan alga. Hewan ini Merupakan binatang triploblastik selomata, tidak memiliki lengan. Umumnya Berbentuk bulat mirip bantal jarum. Rangka tersusun dari keping-keping zat kapur yang disebut laminae yang menjadi satu sehingga membentuk semacam mangkok dan umumnya berduri. Rangka tubuhnya membentuk suatu cangkang keras dan osikel pipih yang tidak bergerak.
Ciri khas dari echinodermata adalah system pembuluh air (water vascular system), suatu jaringan saluran hidrolik yang bercabang menjadi penjuluran yang disebut kaki tabung (tube feet) yang berfungsi sebagai lokomosi, makan, dan pertukaran gas. Reproduksi seksual anggota filum echinodermata umumnya melibatkan individu jantan dan betina yang terpisah dan membebaskan gametnya ke dalam air laut.


BAB V

PENUTUP

5.1  Kesimpulan

kesimpulan yang didapat dari dilaksanakannya KKL (Kuliah Kerja Lapangan) ini adalah sebagai berikut:
1.         Hewan-hewan  invertebrata yang ditemukan di wilayah pesisir pantai  Nganteb adalah Nerita plicata, Nerita lineata, Pyrosome sp, Chiton sp, Salp sp, dan  Colobocentrotus atratus.
2.         Adapun morfologi atau karakteristik dari spesie-spesies yang ditemukan adalah sebagai berikut:
a. Nerita plicata: ukuran tubuhnya : panjang = 2,3 cm dan lebar   =2,2 cm,  memiliki apeks yang memendek   dan aperture yang lebar memendek dengan bibir luar tebal bergerigi dan bibir dalam yang tebal bergerigi. Habitat hewan ini yaitu di dasar berpasir.  Spesies ini ditemukan melekatkan diri di batu karang.
b. Nerita lineata:  tubuh lunak dengan cangkang yang berwarna hitam
dengan garis-garis spiral.  cangkangnya memillliki tiga lapisan  untuk
melindungi tubuhnya.
c. Pyrosome  sp:  memiliki permukaaan    bercahaya  terang,  berkedip cahaya biru-hijau  pucat,bersifat  planktonik,  lapisan luar dari tubuh terdiri atas lapisan tembus pandang (transparan), dan memiliki  mantel yang merupakan dinding tubuh terdiri atas jaringan ectoderm dan jaringan ikat yang membungkus berkas fiber. Pembunkus tubuh secara umum diperpanjang dengan siphon (pipa) baik pada oral maupun atrial.
d. Chiton sp:  Kakinya berbentuk  pipih dilengkapi dengan radula, cangkang terdiri atas 8 kepingan yang terbuat dai zat kapur, bernafas dengan insang, hidup dilaut dangkal/karang mati, dan simetri tubuhnya bilateral.
e. Salp sp: merupakan gentong berkulit, memiliki tubuh seperti agar untuk bergerak,dan bergerak dengan mengerutkan tubuhnya. Hidup di daerah beriklim  sedang dan laut yang dingin. 
f. Colobocentrotus atratus:  menempel  pada substrat, memiliki duri tumpul,  berwarna  merah marun  keunguan, dan tumbuh  membentuk setengah lingkaran  kecil sebesar bola pingpong.  Rangka tubuhnya membentuk suatu cangkang keras dan osikel pipih yang tidak bergerak. Hewan ini juga memiliki  tube feet  atau kaki tabung. 

5.2 saran

Diharapkan pada KKL selanjutnya untuk dapat menemukan spesies-spesies yang beragam, dan sebelum pemberangkatan KKL asisisten dan memberikan breafing kepada para praktikan mengenai cara atau metode pengawetan specimen agar tidak bingung pada saat penggawetan. Semoga KKL ini dapat bermanfaat umumnya bagi masyarakat luas, khususnya bagi kami para praktikan.

DAFTAR PUSTAKA


Adun, Rusyana, 2011. Zoologi Invertebrata, Bandung: Alfabeta
Campbell,N.A.,J.B.Reece, & L.G. Mitchell. 2005. Biologi Edisi kelima. Jakarta: Erlangga
Erwin, Mulyo. 2011. Binatang serangga. Jakarta: UIP 
Guru. 2008. Mengenal Phylum Coelenterata. Blog Guru. (http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/10/mengenal-phylum-coelenterata-cnidaria/) (25 Nov 2014)
Jasin, M.1992. Zoologi Vertebrata. Surabaya: Sinar Jaya
Kastawi, Yusuf. 2005. Zoology Avertebrata. Malang: UM Press
Mukayat, Brotowidjojo Djarubito. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Myers, P., R. Espinosa, C. S. Parr, T. Jones, G. S. Hammond, and T. A. Dewey. 2014.  The Animal Diversity (http://animaldiversity.org).  Diakses tanggal 30 November 2014
Plantamor, 2007. Klasifikasi invertebrate (http://www.plntamor-klasifikasi-hewan-invertebrata.com)
Roberts, dkk. 2009. Zoologyy. San fransisco, California: Thriteend Edition
Setiati. 2007. Artropoda. Jakarta: Lusdt
Sjafrie, Nurul Dhewani Mirah. 1989. Beberapa Catatan Mengenai Chiton. Oseana. Volume. XIV. Nomor. 2. ISSN 0216–1877
Suwignyo, Sugiarti. 2005.  Avetebrata Air Jilid I1. Jakarta: Penebar Swadaya
Vimono, Indra Bayu. 2007. Sekilas Mengenai Landak Laut. Oseana. Volume. XXXII. Nomor. 3. ISSN 0216-1877
Yusminah, Hala. 2007. Biologi Umum 2. Makassar: UIN Alauddin Press



LAMPIRAN

Gambar Spesies yang Ditemukan:





0 komentar:

Posting Komentar