LAPORAN KKL (KULIAH KERJA LAPANGAN) TEKNIK INSTRUMENTASI
LIPI GUNUNG
KIDUL
Dosen Pengampu:
dr. Tias Pramesti Griana
Disusun Oleh:
Ikbalullah M K 13620013
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS
SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Laboratorium adalah tempat riset ilmiah,
eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium
biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut
secara terkendali. Laboratorium diartikan sebagai suatu tempat untuk mengadakan
percobaan, penyelidikan, dan sebagainya yang berhubungan dengan ilmu fisika,
kimia, dan biologi atau bidang ilmu lain (Sukarso, 2005).
Menurut ( Sukarso, 2005), secara garis
besar laboratorium dalam proses pendidikan adalah sebagai berikut :
1.
Sebagai
tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan
pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala-gejala alam.
2.
Mengembangkan
keterampilan motorik siswa. Siswa akan bertambah keterampilannya dalam
mempergunakan alat-alat media yang tersedia untuk mencari dan menemukan
kebenaran.
3.
Memberikan
dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu
objek dalam lingkungn alam dan sosial.
Pengertian Laboratorium sebenarnya sudah
dijelaskan juga dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah
ayat 164 :
Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih
bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang
Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi
sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh
(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS Al-Baqarah ayat 164).
Laboratorium juga digolongkan menjadi
Laboratorium Pakan, Laboratorium Pangan, dan Laboratorium Kimia dan Lingkungan.
Salah satu lembaga yang menerapkan struktur bentuk Laboratorium diatas adalah
Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPT BPPTK LIPI) Yogyakarta.
Balai Pengembangan Proses dan Teknologi
Kimia mempunyai tugas melaksanakan pengembangan, pemanfaatan dan penerapan
hasil penelitian di bidang proses dan teknologi kimia, pangan dan pakan,
farmasi dan teknologi lingkungan. Beberapa produk dengan bahan baku alam
seperti : destilat sirih, tepung pati bengkuang, tepung mengkudu, teh daun
mengkudu, tepung jahe, tepung temu lawak, dll telah dibuat dengan memanfaatkan
peralatan yang dimiliki UPT BPPTK LIPI Jogjakarta. Produk-produk tersebut telah
diperkenalkan melalui kerjasama dengan pengusaha swasta yang bergerak dalam
bidang pemasaran (Indah Fortuna, 2014).
Kuliah Kerja Lapangan juga dilakukan di
industri-industri lain di daerah Yogyakarta, yakni PT.Madu Baru (Madukismo)
yang teretak di Tromol Pos 49 Padokan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul –
Yogyakarta. PT. Madu Baru (Madukismo) mempunyai usaha pokok Pabrik Gula Dan
Pabrik Spiritus yang terkenal dikalangan masyarakat luas dengan sebutan PG/PS
Madukismo dengan potensi dan peluang pengembangan usaha yang potensial masih
memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang menjadi suatu perusahaan Agro
Industri yang berbasis tebu dan dikelola secara profesional dan inovatif untuk
menghadapi persaingan bebas diera globalisasi dengan petani sebagai mitra
sejati.
PG/PS Madukismo merupakan
satu-satunya Pabrik Gula dan Pabrik Alkohol di DIY yang mengemban
tugas untuk mensukseskan program pengadaan pangan Nasional khususnya gula pasir
dan sebagai perusahaan padat karya. Beberapa pabrik di
Indonesia kini sudah mulai menerapkan sistem pengolahan limbah untuk mengurangi
dampak polusi dari limbah - limbah tersebut, bahkan ada beberapa yang
memanfaatkan limbah pabriknya untuk dijadikan produk baru yang berguna yang
tentunya diolah melalui proses - proses tertentu. Salah satunya mengolah
limbah sisa pembuatan gula menjadi kompos, batako dan lain lain. Pemanfaatan limbah saat ini menjadi sangat penting
artinya terutama untuk mengatasi masalah penumpukan sampah di kota-kota besar,
limbah organik industri,
serta limbah pertanian dan perkebunan
Kunjungan
industri dan Lembaga Penelitian dipilih untuk menambah pengalaman mahasiswa tentang dunia kerja. Mahasiswa dituntut untuk aktif
menggali informasi tentang kunjungan industri dan Lembaga Penelitian untuk
memperoleh pengetahuan tentang proses-proses pengolahan dan manfaatnya untuk
masyarakat. Kunjungan industri dilakukan untuk memberikan gambaran kepada
mahasiswa tentang industri dan proses produksi di bidang agrobisnis. Mahasiswa harus
dapat membandingkan proses produksi di dunia kerja dengan ilmu yang diperoleh
di Universitas.
1.2
Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang didapatkan setelah melakukan
kunjungan industri dan Lembaga Penelitian adalah sebagai berikut :
1.2.1
Unit
Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (UPT BPPTK LIPI) Yogyakarta.
1.
Bagaimana
sejarah berdirinya UPT BPPTK LIPI Yogyakarta?
2.
Apa
saja macam-macam Laboratorim yang berada di UPT BPPTK LIPI?
3.
Apa
saja alat-alat yang digunakan pada setiap Laboratorium di UPT BPPTK LIPI?
4.
Apa
saja produk yang dihasilkan di UPT BPPTK LIPI?
1.2.2
PT. Madu Baru
(Madukismo) Yogyakarta
1.
Bagaimana
sejarah berdirinya PT. Madu Baru
(Madukismo) Yogyakarta?
2.
Apa saja alat-alat yang digunakan
untuk pengolahan tebu di PT.Madu Baru (Madukismo) Yogyakarta?
3.
Bagaimana
proses pengolahan tebu menjadi gula di PT.Madu Baru (Madukismo) Yogyakarta?
4.
Apa saja produk yang dihasilkan oleh
PT. Madubaru
(Madukismo) Yogyakarta?
1.3
Tujuan
Tujuan
yang didapatkan setelah melakukan kunjungan industri dan Lembaga Penelitian
adalah sebagai berikut :
1.3.1
Unit
Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (UPT BPPTK LIPI) Yogyakarta.
1.
Untuk
mengetahui sejarah berdirinya UPT BPPTK LIPI
Yogyakarta
2.
Untuk
mengetahui macam-macam Laboratorim yang berada di
UPT BPPTK LIPI
3.
Untuk
mengetahui alat-alat yang digunakan pada setiap
Laboratorium di UPT BPPTK LIPI
4.
Untuk mengetahui
produk yang dihasilkan di UPT BPPTK LIPI
1.3.2
PT. Madu Baru
(Madukismo) Yogyakarta
1.
Untuk mengetahui sejarah berdirinya PT. Madu
Baru (Madukismo) Yogyakarta
2.
Untuk mengetahui alat-alat
yang digunakan untuk pengolahan tebu di PT.Madu Baru (Madukismo) Yogyakarta
3.
Untuk
mengetahui proses pengolahan tebu menjadi gula di PT.Madu Baru
(Madukismo) Yogyakarta
4.
Untuk
mengetahui produk yang dihasilkan oleh PT. Madubaru (Madukismo) Yogyakarta
1.4
Kegunaan Laporan
Kegunaan laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang dilaksanakan di Yoyakarta ini adalah sebagai berikut
1.
Sebagai sarana pembelajaran bagi pembaca.
2.
Bermanfaat menambah khazanah ilmu pengetahuan
1.5
Kerangka Pemikiran
Kerangka Pemikiran laporan
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang dilaksanakan di Yoyakarta ini adalah sebagai
berikut
1.
Tri dharma perguruan tinggi
2.
Tugas matakuliah Teknik Instrumentasi Jurusan Biologi Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
1.6
Metode Penelitian dalam Pelaporan KKL
Metode Penelitian laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang dilaksanakan di Yoyakarta ini
adalah sebagai berikut
1.
Observasi Lapangan
2.
Kutipan dari literatur
1.7
Lokasi dan Waktu KKL
Lokasi dan waktu Kuliah Kerja
Lapangan (KKL) yang dilaksanakan di Yoyakarta ini adalah sebagai berikut.
1.
PT. Madu Baru (Madukismo) Yogyakarta
Lokasi : Ds.
Padokan, Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul
Waktu : Rabu,
16 April 2014
2.
Unit
Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (UPT BPPTK LIPI) Yogyakarta.
Lokasi : Ds.
Gading, Kec. Playeng, Kab. Gunung Kidul
Waktu :
Kamis, 17 April 2014
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
UPT BPPTK LIPI Yogjakarta
Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan
Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT
BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi
dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan
kerja yang dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK)
LIPI yang berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian
dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di Lampung merupakan satuan kerja terbesar
di antara ketiga satuan kerja di atas. Kegiatan utama dari satuan tersebut
adalah pertanian. Kegiatan utama satuan kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul,
Yogyakarta, diarahkan pada pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan
kerja yang berada di Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa
percobaan laboratorium.
Pembentukan UPT Balai Pengembangan Proses dan
Teknologi Kimia pada dasarnya merupakan peleburan ketiga sub-satuan kerja dari
3 lokasi dengan penekanan kegiatan yang berbeda dapat menimbulkan dampak.
Dampak tersebut perlu segera diantisipasi agar satuan kerja yang baru dapat
menjalankan Tugas Pokok dan Fungsinya secara optimal. Tugas pokok UPT BPPTK
mengacu pada LIPI yang memiliki tiga tanggung jawab, yaitu:
1.
Kepada dunia
ilmu pengetahuan
2.
Kepada
masyarakat
3.
Kepada
pemegang kepentingan (stakeholders)
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi
faktor penting dengan penekanan pada pengembangan riset terapan untuk
kepentingan masyarakat luas demi meningkatkan kemampuan berkompetisi di era
globalisasi dan pasar bebas. Pemantapan organisasi UPT BPPTK LIPI untuk
mengemban tanggung jawab tersebut adalah sangat penting dilakukan. Oleh karena
itu, perlu disadari adanya sinergisme antar program, antar proyek dan antar
kegiatan. Namun demikian program/kegiatan tersebut harus mempunyai fokus yang
jelas dan tegas.
UPT BPPTK sebagai salah satu unit eselon III di dalam
organisasi LIPI menyusun Rencana Implementatif yang memuat visi, misi, sasaran,
strategi, kebijakan dan arahan program selama 5 tahun ke depan, yaitu tahun
2010 – 2014 untuk mengikuti, merespon dan mengantisipasi perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang muncul baik di dalam maupun di luar negeri yang
memerlukan pendekatan holistik dan berjangka panjang.
Lokasi UPT BPPTK LIPI Yogyakarta ada dua yaitu Desa
Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul yang berjarak sekitar 31,5 km
dari Yogyakarta dan Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
UPT BPPTK LIPI Yogyakarta memiliki Visi dan Misi yang
dijadikan landasan dalam
pengembangan dan penelitian ilmu teknologi yakni sebagai berikut :
2.1.1
Visi UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
VISI LIPI adalah Menjadi
lembaga ilmu pengetahuan nasional berkelas dunia yang dapat mendorong
terwujutnya kehidupan bangsa yang adil, cerdas, kreatif, integratif dan dinamis
yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanis.
Mengacu visi LIPI di atas, maka ditetapkan arah dan
tujuan UPT BPPTK LIPI yaitu menjadi satuan kerja yang unggul, profesional dan
humanis dalam pengembangan dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek) di bidang proses dan teknologi kimia, pangan dan pakan, farmasi dan
teknologi lingkungan.
2.1.2
Misi UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
1.
Menciptakan great
science dan invensi yang dapat mendorong inovasi dalam rangka meningkatkan
daya saing perekonomian nasional.
2.
Mendorong
(meningkatkan) pemanfaatan pengetahuan dalam proses penciptaan good
governance yang dapat memantapkan NKRI.
3.
Turut serta
dalam proses pencerahan kehidupan masyarakat dan kebudayaan berdasarkan
prisip-prinsip ilmu pengetahuan dan kaidah etika keilmuan.
4.
Memperkuat
peran Indonesia (yang didukung ilmu pengetahuan) dalam pergaulan internasional.
5.
Memperkuat
infrasruktur (Penguatan manajemen dan sistem).
2.1.3
Kegiatan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
Sesuai dengan misi LIPI maka UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
mempunyai kegiatan utama yaitu mengimplementasikan hasil-hasil penelitian untuk
kesejahteraan masyarakat luas. Untuk mengoperasionalkan rencana ini, UPT BPPTK
LIPI Yogyakarta melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
1.
Menumbuhkembangkan
budaya iptek serta meningkatkan kemampuan berbasis kompetensi di lingkungan UPT
BPPTK LIPI Yogyakarta. Turut berpartisipasi aktif dalam usaha menciptakan
masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).
2.
Melaksanakan
pengembangan iptek dan implementasi hasil-hasil penelitian bidang proses
Pangan, Pakan, Teknologi Kimia dan Lingkungan dengan penekanan pada usaha
peningkatan nilai tambah bahan dan produk lokal, melaksanakan layanan jasa
iptek untuk menjawab permintaan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
3.
Menjalin
kerjasama dengan para stake holders untuk pengembangan produk-produk
unggul dengan daya komparatif dan kompetitif dari bahan lokal.
4.
Mengimplementasikan
iptek melalui mekanisme inkubasi Usaha skala Kecil dan Menengah (UKM).
5.
Melaksanakan
usaha penguatan institusi melalui pengembangan sumber daya yang terencana
dengan memperhatikan perkembangan paradigma, kondisi serta daya dukung
lingkungan.
Untuk melaksanakan Tugas dan Fungsi diatas ditekankan
pada pengembangan, pemanfaatan dan penerapan hasil penelitian di bidang proses
dan teknologi kimia, pangan, pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Fungsi
yang diselenggarakan pada dasarnya mencakup pengembangan, pengelolaan dan
penerapan hasil penelitian dalam bidang proses dan teknologi kimia untuk
kepentingan masyarakat luas.
2.1.4
Tugas dan Fungsi UPT BPPTK
LIPI Yogyakarta
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002,
tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi
Kimia (UPT BPPTK). Tugas Pokok UPT BPPTK adalah melaksanakan pengembangan,
pemanfaatan dan penerapan hasil penelitian di bidang proses dan teknologi
kimia, pangan dan pakan, farmasi dan teknologi lingkungan.
Sedangkan fungsi yang diselenggarakan
oleh UPT BBPTK LIPI adalah :
1.
Mempersiapkan
rencana, memantau, mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan di
bidang proses dan teknologi
kimia;
2.
Melakukan
kerjasama dengan lembaga penelitian lain, baik di lingkungan LIPI maupun di
luar LIPI dalam rangka mengembangkan proses dan teknologi secara kimia yang
diperlukan oleh masyarakat.
3.
Melakukan
uji teknoekonomi dari skala penelitian ke dalam skala pilot plan semua
hasil proses dan teknologi kimia.
4.
Melakukan
pengembangan hasil proses dan teknologi kimia dan memproduksinya untuk
kepentingan masyarakat luas;
5.
Melakukan
pemanfaatan hasil penelitian di bidang proses dan teknologi kimia yang
diperlukan oleh masyarakat dan telah dibuktikan melalui uji coba
pemasyarakatannya baik kualitas maupun kuantitasnya;
6.
Melakukan
pemasyarakatan semua hasil-hasil penelitian bidang kimia.
7.
Melakukan
urusan tata usaha dan rumah tangga.
Kegiatan-kegiatan untuk melaksanakan
tugas pokok dan fungsi di atas ditekankan pada pengembangan, pemanfaatan dan
penerapan hasil penelitian di bidang proses dan teknologi kimia, pangan, pakan,
farmasi dan teknologi lingkungan. Fungsi yang diselenggarakan pada dasarnya
mencakup pengembangan, pengelolaan dan penerapan hasil penelitian dalam bidang
proses dan teknologi kimia untuk kepentingan masyarakat luas.
2.2
PT/PG/PS.Madu Baru (Madukismo) Yogyakarta
Dahulu pabrik ini bernama PG Padokan dengan luasan yang sangat kecil,
pada masa Belanda PG Padokan hancur lebur, atas jasa Sri Sultan Hamengku Buwono
IX kemudian didirikan kembali Pabrik Gula Padokan dengan nama Madukismo.
Gagasan pendirian Pabrik Gula Madukismo tujuannya adalah untuk menolong rakyat
yang banyak kehilangan pekerjaan karena dibumihanguskannya Pabrik-Pabrik Gula
waktu itu. Pendirian pabrik gula diyakini mampu menampung banyak orang
untuk bekerja. Banyak petani akan terlibat dalam proses penanaman, pemeliharaan
tanaman, panen serta di pabrik akan menyerap banyak tenaga kerja
teristimewa pada waktu masa giling.
Pabrik Gula Madukismo adalah
satu-satunya pabrik Gula dan Alkohol/Spirtus
di Propinsi DIY. Pabrik ini mengemban
tugas untuk mensukseskan program pengadaan pangan
Nasional, khususnya gula pasir dan sebagai
perusahaan padat karya. Pabrik
gula dan Alkohol/Spirtus Madukismo terletak
di Kalurahan Tirtonimolo, Kecamatan Kasihan,
Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta. Perusahaan ini merupakan bentuk
dari Perseroan Terbatas (PT), yang berdiri pada tanggal 14 Juni 1955, dan
diberi nama PT. Madu Baru. Yang kemudian dibagi menjadi dua pabrik yaitu Pabrik
Gula (PG Madukismo) dan Pabrik Alkohol/Spiritus (PS Madukismo). PG/PS
Madukismo dengan potensi dan peluang pengembangan usaha yang potensial masih
memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang menjadi suatu perusahaan Agro
Industri yang berbasis tebu dan dikelola secara profesional dan inovatif untuk
menghadapi persaingan bebas diera globalisasi dengan petani sebagai mitra
sejati .
Disamping sebagai Pabrik Gula yang menyediakan kebutuhan gula nasional,
Pabrik Gula Madukismo saat ini juga menawarkan paket wisata edukasi
agroindustri. Perjalanan Wisata Agro Industri ini adalah wisata untuk melihat
proses produksi yang dilaksanakan. Kita akan di antar menggunakan gerbong yang
ditarik oleh lokomotif tua. Biasanya wisata ini dilaksanakan pada masa giling
yakni bulan Mei – September.
Apabila Anda berkunjung di Pabrik Gula Madukismo, Anda akan disambut
dengan nuansa era industri. Sebuah bangunan besar berusia tua dengan halaman
luas, mesin-mesin kuno serta rel-rel kereta yang menjadi jalan kereta
pengangkut tebu akan menyapa dan menguatkan kesan itu. Pengunjung
bisa merasakan nuansa perjalanan dengan kereta seperti kembali pada masa
lampau ketika berada di dalam gerbong yang ditarik
oleh lokomotif tua bermesin diesel buatan
Jerman. Kereta tersebut akan mengantar menuju areal pabrik
melewati rel-rel tua dan perkebunan yang ada di dekat pabrik.
Setelah turun dari kereta, Anda dapat
langsung menuju lokasi Pabrik Gula Madukismo. Pada bulan
bulan tertentu, Pengunjung dapat langsung melihat produksi gula
melewati tahap pemerahan nira
untuk mendapatkan sari gula, pemurnian nira
dengan sulfitasi, penguapan nira,
kristalisasi, puteran gula, dan pengemasan.
Sambil mencermati proses produksinya, Pengunjung
juga bisa melihat mesin-mesin tua yang menjadi alat produksi di pabrik
ini.
Keluar dari lokasi produksi gula dapat ditemui Pabrik Spiritus
Madukismo yang terletak di sebelah barat
pabrik gula. Di pabrik yang berdiri di
pada tahun yang sama dengan pabrik gula
ini, pengunjung juga bisa melihat seluruh proses produksi
spiritus yang meliputi tahap pengenceran bahan baku,
peragian atau fermentasi dan penyulingan.
Spiritus dan produk alkohol lainnya
yang dihasilkan oleh pabrik ini diolah
dari tetes tebu, hasil samping produksi gula.
2.2.1 Tahapan-tahapan
Pembuatan Gula
Tahapan-Tahapan dari pembuatan Gula
tersebut adalah sebagai berikut:
2.2.1.1 Pemanenan
Tebu
Tebu dipanen setelah cukup masak,
dalam arti kadar gula (sakarosa) maksimal, dan kadar gula pecahan
(monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan analisa pendahuluan untuk
mengetahui faktor kemasakan, koefisiensi daya tahan dan lain lain. Ini
dilakukan kira-kira 1,5 bulan sebelum giling dimulai.
2.2.1.2 Pemerahan
Nira
Tebu
setelah ditebang, dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan bagian
padat dengan cairannya yang mengandung gula melalui alat alat berupa
unigratormark IV dan cane knife digabung dengan lima gilingan. Ampas yang
diperoleh sekitar 30% tebu untuk bahan bakar di stasiun ketel (pusat tenaga),
sedangkan nira mentah akan dikirim ke bagian pemurnian untuk proses lebih
lanjut. Untuk mencegah kehilangan gula karena bakteri dilakukan sanitasi di
stasiun gilingan.
2.2.1.3 Pemurnian
Nira
Nira mentah ditimbang, dipanaskan 70
derajat celcius sampai 75 derajat celcius, direaksikan dengan susu kapur dalam
defeactor dan diberi gas Sulfur dioksida dalam peti sulfitasi sampai Ph
7,00 kemudian dipanaskan lagi sampai suhu 100 derajat celcius sampai suhu 105
derajat celcius.
2.2.1.4 Penguapan
Nira
Nira jernih dipekatkan di dalam
pesawat penguapan dengan sistem multiple effect, yang disusun secara
interchangeable agar dapat dibersihkan secara bergantian. Nira encer dengan
padatan terlarut 16% dapat dinaikkan menjadi 64% dan disebut nira kental, yang
siap di kristalkan di stasiun kristalisasi/stasiun masakkan. Nira kental yang
berwarna gelap ini diberi gas Sulfur dioksida sebagai bleaching atau pemucatan
dan siap untuk dikristalkan.
2.2.1.5 Kristalisasi
Nira kental dari stasiun penguapan
ini diuapkan lagi dalam pan kristalisasi sampai lewat jenuh hingga timbul
kristal gula. Sistem yang dipakai yaitu ACD, dimana gula A sebagai gula produk,
gula C dan D dipakai sebagai bibit (seed) serta sebagian lagi dilebur untuk
dimasak lagi. Pemanasan menggunakan uap dengan tekanan vakum sebesar 65 CmHg,
sehingga suhu didihnya hanya 65 derajat celcius, jadi sakarosa tidak rusak
akibat terkena panas tinggi. Hasil masakkan merupakan campuran kristal gula dan
larutan (stroop). Sebelum dipisahkan di Stasiun Puteran, gula lebih dahulu
didinginkan di dalam palung pendingin (kultrog).
2.2.1.6 Puteran Gula
Pada tahap ini gula dipisahkan
dengan larutannya dengan alat-alat yang menggunakan gaya centrifugal.
Penyelesaian dan Gudang Gula. Dengan alat penyaring gula, gula shs dipisahkan
antara gula halus, gula kasar dan gula normal, dikirim ke gudang gula dan
dikemas dalam karung plastik 50 kg netto. Produksi gula perhari tergantung dari
rendemen gulanya, kalau rendemen 8% maka pada kapasitas 3.000 tth diperoleh
gula 2.400 ku atau 4.800 sak. Berikut adalah skema proses pembuatan gula :
BAB
III
OBYEK
KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
3.1.
UPT BPPTK LIPI Yogjakarta
UPT BPPTK LIPI Yogjakarta terletak di
Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan
Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta,
disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002,
tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi
Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan
satuan kerja yang dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan
Kimia (BBOK) LIPI yang berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan
Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di Lampung merupakan
satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas. Kegiatan utama
dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan kerja yang berada
di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada pengembangan teknologi
pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di Bandung merupakan pusat
kegiatan administrasi dan beberapa percobaan laboratorium. Balai Pengembangan
Proses dan Teknologi Kimia mempunyai tugas melaksanakan pengembangan,
pemanfaatan dan penerapan hasil penelitian di bidang proses dan teknologi
kimia, pangan dan pakan, farmasi dan teknologi lingkungan.
3.2.
PT/PG/PS.Madu Baru (Madukismo) Yogyakarta
Pabrik Gula Madukismo adalah satu-satunya
pabrik Gula dan Alkohol/Spirtus di Propinsi
DIY. Pabrik ini mengemban tugas untuk mensukseskan
program pengadaan pangan Nasional, khususnya gula pasir dan sebagai
perusahaan padat karya. Pabrik
gula dan Alkohol/Spirtus Madukismo terletak
di Kalurahan Tirtonimolo, Kecamatan Kasihan,
Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta. Perusahaan ini merupakan bentuk
dari Perseroan Terbatas (PT), yang berdiri pada tanggal 14 Juni 1955, dan
diberi nama PT. Madu Baru. Yang kemudian dibagi menjadi dua pabrik yaitu Pabrik
Gula (PG Madukismo) dan Pabrik Alkohol/Spiritus (PS Madukismo). PG/PS
Madukismo dengan potensi dan peluang pengembangan usaha yang potensial masih
memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang menjadi suatu perusahaan Agro
Industri yang berbasis tebu dan dikelola secara profesional dan inovatif untuk
menghadapi persaingan bebas diera globalisasi dengan petani sebagai mitra sejati.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
UPT
BPPTK LIPI Yogyakarta.
4.1.1
Sejarah
UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI
Yogyakarta, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang
Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia
(BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang dibentuk
dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang berada di 3
(tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang
berkedudukan di Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan
kerja di atas. Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan
utama satuan kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan
pada pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di
Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan
laboratorium.
Pembentukan UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia pada
dasarnya merupakan peleburan ketiga sub-satuan kerja dari 3 lokasi dengan
penekanan kegiatan yang berbeda dapat menimbulkan dampak. Dampak tersebut perlu
segera diantisipasi agar satuan kerja yang baru dapat menjalankan Tugas Pokok
dan Fungsinya secara optimal. Tugas pokok UPT BPPTK mengacu pada LIPI yang
memiliki tiga tanggung jawab, yaitu:
1.
kepada dunia
ilmu pengetahuan
2.
kepada
masyarakat
3.
kepada pemegang
kepentingan (stakeholders)
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penting
dengan penekanan pada pengembangan riset terapan untuk kepentingan masyarakat
luas demi meningkatkan kemampuan berkompetisi di era globalisasi dan pasar
bebas. Pemantapan organisasi UPT BPPTK LIPI untuk mengemban tanggung jawab
tersebut adalah sangat penting dilakukan oleh karena itu disadari perlu adanya
sinergisme antar program, antar proyek dan antar kegiatan. Namun demikian
program/kegiatan tersebut harus mempunyai fokus yang jelas dan tegas.
UPT BPPTK sebagai salah satu unit eselon III di dalam organisasi
LIPI menyusun Rencana Implementatif yang memuat visi, misi, sasaran, strategi,
kebijakan dan arahan program selama 5 tahun ke depan, yaitu tahun 2010 – 2014
untuk mengikuti, merespon dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang muncul baik di dalam maupun di luar negeri yang memerlukan
pendekatan holistik dan berjangka panjang.
Lokasi UPT BPPTK LIPI Yogyakarta ada dua yaitu Desa Gading,
Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul yang berjarak sekitar 31,5 km dari
Yogyakarta dan Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
Visi
VISI LIPI adalah Menjadi lembaga
ilmu pengetahuan nasional berkelas dunia yang dapat mendorong terwujutnya
kehidupan bangsa yang adil, cerdas, kreatif, integratif dan dinamis yang
didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanis
Mengacu visi LIPI di atas, maka ditetapkan arah dan tujuan UPT
BPPTK LIPI yaitu menjadi satuan kerja yang unggul, profesional dan humanis
dalam pengembangan dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di
bidang proses dan teknologi kimia, pangan dan pakan, farmasi dan teknologi
lingkungan
Misi
Misi LIPI adalah
1.
Menciptakan great
science dan invensi yang dapat mendorong inovasi dalam rangka meningkatkan daya saing perekonomian nasional
2.
Mendorong
(meningkatkan) pemanfaatan pengetahuan dalam proses penciptaan good
governance yang dapat memantapkan NKRI
3.
Turut serta
dalam proses pencerahan kehidupan masyarakat dan kebudayaan berdasarkan prisip-prinsip
ilmu pengetahuan dan kaidah etika keilmuan
4.
Memperkuat
peran Indonesia (yang didukung ilmu pengetahuan) dalam pergaulan internasional
5.
Memperkuat
infrasruktur kelembagaan (Penguatan manajemen dan sistem)
Sesuai dengan misi LIPI maka UPT BPPTK LIPI Yogyakarta mempunyai
kegiatan utama yaitu mengimplementasikan hasil-hasil penelitian untuk
kesejahteraan masyarakat luas. Untuk mengoperasionalkan rencana ini, UPT BPPTK
LIPI Yogyakarta melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
1.
Menumbuhkembangkan
budaya iptek serta meningkatkan kemampuan berbasis kompetensi di lingkungan UPT
BPPTK LIPI Yogyakarta. Turut berpartisipasi aktif dalam usaha menciptakan
masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).
2.
Melaksanakan
pengembangan iptek dan implementasi hasil-hasil penelitian bidang proses
Pangan, Pakan, Teknologi Kimia dan Lingkungan dengan penekanan pada usaha
peningkatan nilai tambah bahan dan produk lokal, melaksanakan layanan jasa
iptek untuk menjawab permintaan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
3.
Menjalin
kerjasama dengan para stake holders untuk pengembangan produk-produk
unggul dengan daya komparatif dan kompetitif dari bahan lokal.
4.
Mengimplementasikan
iptek melalui mekanisme inkubasi Usaha skala Kecil dan Menengah (UKM).
5.
Melaksanakan
usaha penguatan institusi melalui pengembangan sumber daya yang terencana
dengan memperhatikan perkembangan paradigma, kondisi serta daya dukung
lingkungan.
6.
Untuk
melaksanakan Tugas dan Fungsi diatas ditekankan pada pengembangan, pemanfaatan
dan penerapan hasil penelitian di bidang proses dan teknologi kimia, pangan,
pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Fungsi yang diselenggarakan pada
dasarnya mencakup pengembangan, pengelolaan dan penerapan hasil penelitian
dalam bidang proses dan teknologi kimia untuk kepentingan masyarakat luas.
Struktur Organisasi UPT BPPTK
LIPI Yogyakarta
Tugas pokok
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata
Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (UPT BPPTK). Tugas
Pokok UPT BPPTK adalah melaksanakan pengembangan, pemanfaatan dan penerapan
hasil penelitian di bidang proses dan teknologi kimia, pangan dan pakan,
farmasi dan teknologi lingkungan.
Sedangkan fungsi yang diselenggarakan oleh UPT BBPTK LIPI adalah :
1.
Mempersiapkan
rencana, memantau, mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan di
bidang proses dan teknologi kimia;
2.
Melakukan
kerjasama dengan lembaga penelitian lain, baik di lingkungan LIPI maupun di
luar LIPI dalam rangka mengembangkan proses dan teknologi secara kimia yang
diperlukan oleh masyarakat.
3.
Melakukan uji
teknoekonomi dari skala penelitian ke dalam skala pilot plan semua hasil
proses dan teknologi kimia.
4.
Melakukan
pengembangan hasil proses dan teknologi kimia dan memproduksinya untuk
kepentingan masyarakat luas;
5.
Melakukan
pemanfaatan hasil penelitian di bidang proses dan teknologi kimia yang
diperlukan oleh masyarakat dan telah dibuktikan melalui uji coba
pemasyarakatannya baik kualitas maupun kuantitasnya;
6.
Melakukan
pemasyarakatan semua hasil-hasil penelitian bidang kimia.
7.
Melakukan
urusan tata usaha dan rumah tangga.
Kegiatan-kegiatan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi di atas
ditekankan pada pengembangan, pemanfaatan dan penerapan hasil penelitian di
bidang proses dan teknologi kimia, pangan, pakan, farmasi dan teknologi
lingkungan. Fungsi yang diselenggarakan pada dasarnya mencakup pengembangan,
pengelolaan dan penerapan hasil penelitian dalam bidang proses dan teknologi kimia
untuk kepentingan masyarakat luas
4.1.2
Laboratorim
UPT BPPTK LIPI
4.1.2.1 Program Pangan
Pembangunan ketahanan pangan di Indonesia telah ditegaskan dalam
Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan yang dirumuskan sebagai usaha
untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi seluruh rumah tangga dalam jumlah
yang cukup, mutu dan gizi yang layak, aman dikonsumsi, merata serta terjangkau
oleh setiap individu.
Sampai saat ini masih banyak rumah tangga yang belum mampu
mewujudkan ketersedian pangan yang cukup terutama dalam hal mutu/tingkat gizi.
Dalam hal ini keanekaragaman pangan menjadi salah satu pilar dalam ketahanan
pangan. Keanekaragaman sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia merupakan
potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan konsumsi masyarakat
menuju pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Berbagai sumber pangan lokal
pada beberapa wilayah masih dapat dikembangkan untuk memenuhi keanekaragaman
konsumsi pangan masyarakat pada wilayah yang bersangkutan.
Konsumsi pangan yang beranekaragam diharapkan dapat memenuhi
kecukupan gizi seseorang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Namun
sekarang ini telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi sebagai bagian dari
perubahan gaya hidup. Terdapat kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan siap
saji dengan kalori tinggi, rendah kandungan seratnya. Adanya ketidakseimbangan
dalam pola konsumsi ini telah mendorong timbulnya berbagai masalah kesehatan.
Diet tinggi lemak dan tinggi kalori berkaitan erat dengan peningkatan
prevalensi obesitas yang sering menjadi pemicu timbulnya berbagai penyakit
degeneratif di antaranya hiperkolesterol dan diabetes mellitus. Kekurangan
sumber nutrisi tertentu seperti asam folat dapat juga mengakibatkan cacat
bawaan pada bayi dan berbagai penyakit lainnya, selain itu kekurangan zat besi
dapat menimbulkan anemia yang mengganggu produktivitas.
Menyikapi hal tersebut, menjadi sangat perlu dilakukan penelitian
mengenai makanan sehat untuk mencegah terjadinya penyakit degeneratif tersebut.
Dalam hal ini, penelitian pembuatan makanan sehat dilakukan dengan menggunakan
bahan pangan lokal. Ketersediaan bahan pangan lokal cukup berkesinambungan
sehingga dapat terjaga keberlanjutan produksi makanan sehat yang akan
dilakukan.
Produk-produk pangan yang dikembangkan ini berasal dari bahan pangan
lokal hasil pertanian diantaranya yaitu umbi-umbian, pangan sumber protein
nabati (kacang-kacangan) dan rumput laut. Umbi-umbian merupakan bahan pangan
sumber karbohidrat. Makanan sehat yang dibuat dari umbi-umbian, mengandung
serat, indeks glikemik yang rendah serta senyawa aktif yang dapat bermanfaat
bagi para penderita diabetes mellitus. Kegiatan makanan fungsional untuk
penderita diabetes melitus merupakan kegiatan unggulan program pangan yang
bersinergi dengan salah satu kegiatan di Pusat Penelitian Kimia LIPI.
Bahan pangan lainnya yang dikembangkan yaitu kacang-kacangan
sebagai sumber protein. Bahan pangan sumber protein dipilih mengingat fungsi
protein yang sangat penting bagi tubuh. Dalam pembuatan makanan sehat dari
sumber protein nabati ini akan dilakukan optimasi proses, termasuk proses
fermentasi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai cerna protein dalam
tubuh. Dengan demikian diperoleh makanan sehat dengan tingkat kecernaan protein
yang tinggi dalam tubuh sehingga dapat memperlancar metabolisme. Untuk
meningkatkan nilai gizi bahan pangan perlu diperkaya misalnya dengan zat besi
dan folat.
Selain itu, posisi geografis Indonesia yang merupakan pertemuan
berbagai patahan bumi dan jalur gunung berapi di dunia, mengakibatkan frekuensi
bencana alam berupa gempa bumi, gelombang tsunami dan letusan gunung berapi di
Indonesia cukup tinggi. Kondisi tersebut menuntut sebuah budaya “sadar bencana”
yang harus dikembangkan/diperkenalkan di masyarakat. UPT BPPTK LIPI sebagai
salah satu institusi IPTEK, memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan
teknologi yang menunjang upaya “sadar bencana” tersebut dalam bentuk makanan
yang disiapkan untuk kondisi bencana.
Tujuan Program Pangan sampai dengan tahun 2014 yaitu:
1.
Pengembangan
makanan fungsional dengan memanfaatkan bahan pangan lokal berbasis umbi-umbian
dan kacang-kacangan.
2.
Pengembangan
makanan “siaga bencana”.
4.1.2.2 Program Teknologi Kimia dan Lingkungan
Indonesia yang dianugerahi kekayaan keanekaragaman hayati memiliki
lebih dari 30.000 spesies tanaman dan 940 spesies di antaranya diketahui
berkhasiat sebagai obat. Keanekaragaman hayati Indonesia diperkirakan kedua
terbesar di dunia setelah Brazil. Dari 250.000 spesies tumbuhan tingkat tinggi
yang terdapat di dunia, 30.000 spesies diantaranya terdapat di Indonesia.
Banyak tumbuhan tropika ini telah dimanfaatkan antara lain sebagai biofarmaka.
Maka penelitian yang sistematik perlu terus dilakukan untuk mengungkap secara
optimal manfaat bahan alam di negara kita. Mengingat manfaat keanekaragaman
hayati tersebut sangat beragam bagi manusia seperti sebagai biofuel,
biofarmaka, biopestisida dan biofertilizer. Meningkatnya kesadaran masyarakat
untuk memanfaatkan bahan-bahan dari alam dalam meningkatkan kesehatan yang
optimal dan mengatasi berbagai penyakit secara alami, maka senyawa kimia yang
jumlahnya sangat melimpah perlu terus diteliti dan digunakan bagi kepentingan
rakyat Indonesia. Dengan beragamnya kekayaan alam yang dimiliki Indonesia itu,
maka memungkinkan ditemukannya atau diisolasi senyawa kimia baru. Berdasarkan
hal itu, sebagai negara yang termasuk negara mega
biodiversity maka riset di bidang ini, menjadi salah satu ujung tombak riset di
Indonesia.
Beberapa permasalahan global seperti krisis energi, pemanasan
global dan krisis pangan, mendorong perkembangan IPTEK yang diaplikasikan untuk
mengatasinya. Oleh karena itu, teknologi yang akan dikembangkan dalam Program
Teknologi Kimia dan Lingkungan diarahkan untuk menghadapi permasalahan tersebut
dengan mengambil tema “Back to Bioproduct through Green Chemistry”. Program
Teknologi Kimia dan Lingkungan dilakukan untuk mengeksplorasi dan
mengeksploitasi berbagai bioproduk dan memperhatikan usaha-usaha dengan meminimalkan
dampak terhadap lingkungan. Salah satu strategi yang tepat untuk perlindungan
lingkungan dalam rangka pemanfaatan sumber daya alam adalah dengan menerapkan
kebijakan produksi bersih untuk mengolah limbah atau memanfaatkannya agar
memiliki nilai tambah bagi kehidupan.
Program teknologi kimia dan lingkungan mencakup beberapa kegiatan
di antaranya adalah pengembangan energi alternatif ramah lingkungan berbasis
biomassa serta pengembangan berbagai sumber energi baru dan terbarukan yang
lain. Kegiatan ini merupakan salah satu program prioritas nasional (PN) dan
program unggulan di Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI yang
bersinergi dengan satu kegiatan di Pusat Penelitan Kimia LIPI. Pengembangan
berbasis biomassa dalam hal ini bahan pertanian diarahkan untuk biodegradable
films sebagai bahan pengemas. Teknologi lingkungan akan memperhatikan
aspek-aspek pengembangan sustainable development dalam
mengatasi berbagai masalah lingkungan khususnya pada penanggulangan limbah
industri dan pelestarian lingkungan hidup.
Program teknologi kimia dan lingkungan lainnya dirancang untuk
membentuk keunggulan melalui pemanfaatan bahan baku lokal dan memanfaatkan
senyawa aktif untuk membentuk keunggulan pada produk baru. Produk-produk yang
akan dikembangkan terutama yang berbahan baku empon-empon, mengkudu, daun
sirih, bunga cranberry, pengembangan minyak atsiri dan bahan alam potensial
lain. Produk-produk tersebut diolah secara kimia untuk memanfaatkan senyawa
bioaktif yang terkandung di dalamnya. Produk yang mengandung senyawa bioaktif
tersebut, sangat bermanfaat bagi industri-industri obat, pangan dan kosmetika.
Senyawa bioaktif tersebut telah diketahui mempunyai efek antibacterial, antiviral, antifungal, antioxidant,
anticancer dan mempunyai kemampuan aksi-farmakologi yang lain.
Tujuan Program
Teknologi Kimia dan Lingkungan adalah
1.
Meningkatkan
kualitas dan efektivitas proses teknologi kimia untuk menaikkan nilai tambah
bahan baku lokal.
2.
Mengembangkan
proses teknologi kimia dengan memperhatikan dampak lingkungan.
3.
Mengoptimalkan
bahan alam lokal yang berpotensi sebagai biofuel, biofertilizer, biopestisida
dan biofarmaka yang memiliki nilai komersial dan bermanfaat untuk masyarakat.
4.1.2.3 Program Pakan dan Nutrisi Ternak
Kebutuhan produk hasil ternak erat kaitannya dengan tuntutan adanya
kualitas produk hasil ternak yang aman dan sehat bagi konsumen. Tingginya kadar
kolesterol dan beberapa asam lemak jenuh dapat menjadi ancaman bagi kesehatan
manusia sehingga perlu upaya untuk meningkatkan kualitas hasil ternak dengan
pendekatan nutrisi (nutritional
approach). Untuk menunjang capaian produk pangan asal ternak yang sehat dan
aman, perlu perhatian terhadap kuantitas dan kualitas bahan dan produk pakan.
Ketersediaan pakan baik secara kuantitas dan kualitas merupakan
faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan unggas maupun ruminansia.
Kendala utama dalam penyediaan pakan ternak adalah sulitnya bahan baku pakan,
kadar zat makanan (nutrient) yang
terkandung dalam bahan baku pakan rendah kualitasnya sehingga belum memenuhi
kebutuhan nutrisi ternak. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi
keterbatasan rendahnya kualitas bahan pakan adalah dengan pengembangan
teknologi pengolahan pakan, peningkatan asupan nutrient melalui
pemberian suplemen pakan (feed supplement) dan
peningkatan utilitas pakan dengan pemberian aditif pakan (feed
additive).
Pemberian suplemen dan aditif pakan ditujukan tidak hanya untuk
mengejar aspek produktivitas ternak, namun sebagai upaya untuk meningkatkan
kualitas dan keamanan produk ternak terhadap konsumen.
Tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi pengolahan pakan
adalah mencakup tiga aspek yaitu peningkatan kualitas pakan, daya simpan dan
nilai ekonomisnya. Mengingat sebagian besar bahan baku pakan khususnya pakan
ternak ruminansia bersumber dari limbah tanaman pangan dan agroindustri,
teknologi yang akan dikembangkan harus mampu mengatasi keterbatasan bahan
pakan, seperti kadar serat tinggi, rendahnya protein kasar dan keberadaan
senyawa toksik (racun) pada beberapa hijauan. Pengembangan teknologi bahan
pakan berserat tinggi ini dilakukan dengan dua pendekatan yakni pengolahan
secara mekanik dan pengolahan dengan fermentasi baik an aerob maupun semi
aerob untuk mendukung kemudahan aplikasi teknologi di tingkat peternakan
rakyat dan industri.
Pendekatan suplementasi pakan juga ditujukan untuk mengatasi
kekurangan beberapa unsur zat makanan makro maupun mikro sehingga dicapai suatu
keseimbangan (balanced
nutrient), sedangkan pemberian aditif pakan berperan dalam aktivasi dan
optimasi proses absorpsi zat makanan dalam sistem pencernaan ternak. Melalui
pendekatan pengolahan pakan, pemberian suplemen dan aditif tersebut diharapkan
optimasi produktivitas ternak dapat meningkatkan efesiensi sekaligus kualitas
produk ternak.
Kegiatan penelitian bidang pakan dan nutrisi ternak dikategorikan
dalam 2 kegiatan penelitian yaitu pengembangan bioaditive untuk
meningkatkan pertumbuhan (growth promotor) dan mendukung
sistem kekebalan (immunostimulator) dan
modifikasi pakan (modified
feed) untuk peningkatan nilai tambah produk ternak yang aman dan sehat.
Pembuatan bioaditive dilakukan
dengan memanfaatkan peranan bakteri asam laktat dengan kombinasi bahan organik
yang mengandung bioaktif yang memiliki aktivitas antimikrobia dan menstimulasi
sistem kekebalan tubuh ternak. Produk yang dihasilkan dari aplikasi produk bioaditive yang aman dan
kaya akan nutrient
esensial diharapkan akan memberikan kontribusi dalam penyediaan
bahan pangan hewani sebegai sumber protein utama, aman dan menyehatkan.
Integrasi peternakan dengan bidang pertanian lainnya juga diarahkan
pada suatu sistem budidaya peternakan yang ramah lingkungan (zero
waste system). Kegiatan ini mencakup pengelolaan limbah pertanian sebagai
sumber energi alternatif dan biofertilizer yang nantinya
diarahkan tidak hanya sekedar pupuk tunggal namun juga pupuk yang memiliki
spesifikasi terhadap tanaman dan bahan penangkal hama dan penyakit tertentu.
Fortifikasi pupuk dengan bahan-bahan alam akan diintegrasikan dengan kegiatan
program penelitian bahan alam dalam program diseminasi dan implementasi IPTEK.
Tujuan Program Pakan dan Nutrisi Ternak yang telah ditetapkan untuk
dicapai pada akhir 2014 meliputi:
1.
Pengembangan teknologi pengolahan dan pengawetan bahan pakan
2.
Pengembangan bioaditive sebagai growth
promoter dan Immunostimulator
pada ternak
4.2
PT. Madu Baru
(Madukismo) Yogyakarta
4.2.1
Sejarah
PT. Madu Baru (Madukismo) Yogyakarta
Sebelum perang dunia II di Yogyakarta terdapat
beberapa pabrik gula seperti di Cebongan, Gesikan, Ganjuran, Wonopati, Pundong,
Jambang, dan Demak Ijo. Tetapi semua ini merupakan pabrik kecil yang akhirnya
dibumihanguskan pada perang dunia II.
Pabrik Gula (PG) Madukismo oleh pemerintah
dipertahankan dan mulai diperbaiki pada tanggal 14 Juni 1955. Pembangunan
pabrik ini ditangani oleh kontraktor Machine Fabrick Sangerhausen
dari Jerman Timur. Pembangunan pabrik tersebut merupakan hasil kerjasama antara P3G (Panitia Pendiri Pabrik
Gula) dengan pemerintah DIY. Kemudian dibentuk BP3 (Badan Pelaksana Perusahaan
Perkebunan) yang akhirnya menjelma menjadi YAKTI (Yayasan Kredit Tani). Hal ini
atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang memikirkan agar hasil
pendapatan petani daerah meningkat dan
untuk memperluas lapangan kerja.
Tanggal 29 Mei 1958 pabrik tersebut diresmikan
oleh Presiden RI Ir. Soekarno. Mulai
tahun 1958 pabrik mulai beroperasi dengan kapasitas 1500 ton tebu per hari.
Pada tahun 1958 itu pula YAKTI akhirnya menjadi sebuah perseroan terbatas
dengan nama PT. Madubaru. Adanya nasionalisasi pada tahun 1962 menyebabkan
status berubah menjadi bagian dari BPUPPN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan
Perkebunan Negara). Tahun 1966 statusnya berubah lagi menjadi PT, lepas dari
BPUPPN, sampai sekarang dengan nama PG. Madukismo dan Pabrik Spiritus
Madukismo. Saham sebesar 65% dimilik Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan 35%
merupakan milik pemerintah (dikuasakan pada PT. Rajawali Nusantara Indonesia).
Tahun 1984 P2G Madubaru mengadakan kontrak
manajemen dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (BUMN
Departemen Keuangan RI) selama 10 tahun. Kontrak manajemen 10 tahun kedua pada
tanggal 1 April 1994 sampai dengan 31 Maret 2004. Kontrak yang ketiga mulai
tanggal 1 April 2004 sampai dengan 2014. Selain itu dalam operasionalnya PT.
Madubaru dibantu sepenuhnya oleh ahli-ahli dari PT IMACO yang merupakan bagian
dari PT. Rajawali Nusantara Indonesia.
Letak dan Status PG. Madukismo
PG Madukismo terletak di
Desa Padokan, Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan,
Kabupaten Bantul yang berjarak ±5 km sebelah barat daya kota Yogyakarta.
Komplek PG Madukismo terdiri atas bangunan pabrik, lapangan
olahraga, perumahan karyawan yang dibangun pada tahun 1955 di atas tanah seluas
21,8 ha. Pemilihan tempat dan lokasi pabrik tersebut mempunyai alasan-alasan sebagai
berikut:
1.
Jarak antara desa Padokan dengan kota
Yogyakarta relatif dekat, sehingga menguntungkan untuk urusan transportasi.
2.
Mudah mendapatkan bahan baku karena dekat
dengan lahan yang berpotensiuntuk ditanami tebu.
3.
Tidak dekat dengan keramaian kota dan aktivitas
kota.
4.
Lokasi agak jauh dari perkampungan penduduk,
sehingga memungkinkan untuk tidak mengganggu penduduk selama beroperasi.
5.
Memungkinkan untuk usaha perluasan pabrik.
6.
Kebutuhan air untuk menghasilkan uap dan
kebutuhan lainnya dapat terpenuhi, karena lokasinya dekat dengan sungai
Winongo.
7.
Banyak tenaga
yang terdidik di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Luas Areal, Produksi dan Kapasitas Giling
Pabrik Gula Madukismo mulai giling pertama kali
pada tahun 1958. Luas areal pada tahun 1963 berkisar 1000 ha, lalu berkembang
menjadi 2000 ha (tahun 1970), kemudian berkembang lagi menjadi 3000 ha.
Selanjutnya sejak tahun 1976 sesuai dengan INPRES No.9/75 mengenai TRI maka
penyediaan areal mencakup luasan 5000-6000 ha sampai sekarang.
Kapasitas giling mula-mula 1500 ton tebu per
hari, kemudian naik menjadi 1600 ton tebu per hari pada
tahun 1965. Ketika program ekspansi dilakukan pada tahun 1976, kapasitas giling
menjadi 2500 ton tebu per hari. Tahun 1986 sampai sekarang kapasitas giling
mencapai 2400-3000 ton tebu perhari.
Pabrik Gula Madukismo melakukan pengolahan tebu
dengan produk utama gula SHS (Superieure Hoofd Suiker). Hasil produksinya
sejalan dengan perkembangan pabrik, pada tahun 1961 produk gula mencapai 3600
ton, dan pada tahun 1972 jumlahnya mencapai 20.000 ton. Jumlah ini ternyata
selalu bertambah sampai tahun 1974 dengan jumlah produksi gula mencapai 35.000
ton hingga saat ini.
Struktur Organisasi
Struktur organisasi PT. Madu Baru adalah struktur
organisasi fungsional yaitu sistem organisasi yang wewenang pimpinan
dilimpahkan kepada bagian-bagian organisasi yang ada di bawahnya dalam bidang
kerja tertentu. Pimpinan tiap bidang berhak memerintah semua pelaksana yang ada
sejauh masih ada pada bidang kerjanya. Pimpinan tertinggi dipegang oleh direksi
yang mempunyai bawahan langsung yaitu General Manage (Administratur). Dalam
pelaksanaan tugasnya administratur dibantu oleh 4 orang Kepala Bagian yaitu:
Kabag. Tanaman, Kabag. Pabrikasi, Kabag. Instalasi dan Kabag. Spiritus dan
Alkohol.
Masing-masing jabatan memiliki tugas dan
tanggung jawab. Fungsi dan tugas masing-masing jabatan adalah
sebagai berikut:
Dewan Komisaris
·
Mengawasi jalannya perusahaan dan kebijaksanaan
yang diambil dalam operasional
perusahaan.
·
Komisaris berhak memeriksa pembukuan, surat dan
alat bukti lainnya.
·
Memeriksa dan mencocokkan keadaan uang kas dan
lain-lain.
Direktur
·
Melakukan manajemen yang meliputi keseluruhan
kegiatan termasuk keputusan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh dewan
direksi.
·
Bertanggung jawab kepada direksi dan semua
faktor produksi.
·
Mengevaluasi hasil kerja pabrik setiap
tahunnya.
General Manager (Administratur)
·
Menetapkan strategi untuk mencapai sasaran
perusahaan.
·
Melaksanakan kebijakan dan pedoman penyusunan
anggaran tahunan.
·
Merumuskan kegiatan-kegiatan dalam koordinasi
kegiatan kepala bagian dan unit-unit organisasi yang ada di bawahnya.
·
Mengevaluasi hasil kerja pabrik setiap
tahunnya.
Kepala Bagian Pemasaran
·
Mengkoordinir dan memimpin
kegiatan dibidang pembelian dan penjualan.
·
Bertanggung jawab terhadap
administratur.
Kepala Bagian Akuntansi dan Keuangan
·
Bertanggung jawab terhadap administratur di
bidang keuangan perusahaan dan pengadaan barang.
·
Mengkoordinir administrasi
tebu rakyat dan timbangan tebu.
·
Mengkoordinir dan memimpin
kegiatan di bidang keuangan, anggaran dan biaya produksi serta kegiatan
penjualan.
Kepala Bagian Sumber Daya Manusia (SDM)
·
Mengkoordinasi penyediaan tenaga kerja bagian
produksi dan bagian lainnya.
·
Memberi pelatihan kepada pegawai.
·
Bertanggung jawab kepada kepala administrasi
dan keuangan di bidang umum.
·
Mengkoordinir dan memimpin kegiatan di bidang
penggunaan kendaraan.
·
Mengkoordinir dan memimpin kegiatan di bidang
keamanan.
Kepala Bagian Tanaman
·
Bertanggung jawab kepada direktur dibidang
tanaman (penyediaan tebu).
·
Mengkoordinir rencana
penyesuaian area l tanaman untuk periode mendatang.
·
Menyusun komposisi tanaman mengenai luas,
letak, masa tanam dan jenis varietas
sehingga penyediaan bahan baku selamamusim giling dapat tersedia secara
berkelanjutan.
·
Mengawasi dan mengadakan
evaluasi pembiayaan pada bidang tanaman, tebang dan angkut.
·
Merencanakan kebun-kebun
percobaan dan penelitian.
Kepala Bagian Pabrikasi
·
Bertanggung jawab kepada direktur di bidang
pabrikasi.
·
Mengkoordinir dan memimpin semua kegiatan di
bagian pabrikasi.
·
Meningkatkan efisiensi proses dan menjaga
kualitas produk (gula).
Kepala Bagian Instalasi
·
Bertanggung jawab kepada
direktur di bidang instalasi atau mesin.
·
Mengkoordinir dan memimpin
semua kegiatan di bagian instalasi.
·
Meningkatkan efisiensi
kerja alat produksi untuk kelangsungan proses.
4.2.2 Proses pengolahan tebu menjadi gula di PT.Madu Baru
(Madukismo) Yogyakarta
4.2.2.1 Proses Pengolahan Gula Tebu di PG Madukismo
Bahan baku utama untuk pengo1ahan gula di PG
Madukismo adalah tebu. Sementara bahan bantunya adalah Ca(OH)2, SO2, flokulan,
NaOH, Na3PO4, dan air imbibisi. Proses pengolahan tebu menjadi gula membutuhkan
energi yang cukup besar. Sebagai penghasil tenaga uap digunakan 5 buah ketel
pipa air New Markdengan kapasitas 16 ton / jam masing-masing 440 m2dengan
tekanan kerja 15 Kg/cm2dan satu buah ketel Chen-chen kapasitas 40 ton/jam. Uap
yang dihasilkan dipakai untuk menggerakkan alat-alat berat, memanaskan dan
menguapkan nira dalam pan penguapan, serta untuk pembangkit tenaga listrik
Sebagai bahan bakar dipakai ampas tebu yang
mengandung kalori sekitar 1.800 Kal/Kg dan kekurangannya ditambah dengan kayu
bakar dan BBM. Secara umum proses pengolahan tebu menjadi gula pasir melalui
tahapan sebagai berikut:
1.
Pemerahan Nira (Extraction)
Tebu setelah ditebang dikirim ke stasiun
gilingan (ekstraksi) untuk dipisahkan antara bagian padat (ampas) dengan
cairannya yang mengandung gula (nira mentah) melalui alat-alat berupa Unigrator
Mark IV dan Cane Knife digabung dengan 5 gilingan, masing-masing terdiri atas 3
rol dengan ukuran 36"x 64". Jumlah ampas yang diperoleh sekitar 35 %
tebu dan digunakan untuk bahan bakar stasiun ketel (pusat tenaga), sedangkan
nira mentah akan dikirim kebagian pemurnian untuk diproses lebih 1anjut. Untuk
mencegah kehilangan gula karena bakteri dilakukan sanitasi di stasiun gilingan.
2.
Pemurnian Nira
Pemurnian nira dilakukan dengan sistem
sulfitasi. Nira mentah ditimbang,
dipanaskan pada suhu 70 – 75oC, direaksikan dengan susu kapur dalam
Defekator, dan diberi gas SO2 dalam peti sulfitasi sampai pH 7.0. Kemudian
dipanaskan lagi sampai suhu 100 – 105oC. Kotoran yang dihasilkan diendapkan
dalam peti pengendap (Door Clarifier) dan disaring menggunakan Rotary Vacuum
Filter(alat penapis hampa).
Endapan padatnya (blotong) bisa digunakan
sebagai pupuk organik. Kadar gula dalam blotong ini di bawah 2.0 %. Nira
jernihnya dikirim ke stasiun penguapan.
3.
Penguapan Nira
Nira jernih dipekatkan di dalam pesawat
penguapan dengan system multiple effect, yang disusun secara interchangeable
agar dapat dibersihkan secara bergantian. Nira encer dengan padatan terlarut 16
% dapat naik menjadi 64 % dan disebut nira kental, yang siap dikristalkan di
stasiun kristalisasi atau stasiun masakan. Total luas bidang pemanas adalah
5.990 m. Nira kental yang berwarna gelap ini diberi gas SO2sebagai bleaching
pemucatan, dan siap untuk dikristalkan.
4.
Kristalisasi
Nira kental dari stasiun penguapan ini diuapkan
lagi dalam Pan Kristalisasi sampai lewat jenuh hingga timbul kristal gula.
Sistem yang dipakai yaitu A-C-D dimana gula A sebagai produk, gula C dan D
dipakai sebagai bibit (seed), serta sebagian lagi dilebur untuk dimasak lagi.
Pemanasan dengan menggunakan uap dengan tekanan di bawah atmosfer dengan vakum
sebesar 65 cmHg, sehingga suhu didihnya hanya 650C, jadi sakarosa tidak rusak
akibat kena panas tinggi. Hasil masakan merupakan campuran kristal gula dan
larutan (stroop). Sebelum dipisahkan di stasiun puteran, gula lebih dahulu
didinginkan dalam palung pendingin (kultrog).
5.
Stasiun
Sentrifugasi
Pada stasiun putaran dilakukan pemutaran yang
bertujuan memisahkan gula kristalnya dari stroop, klare dan tetes. Pemutaran
tersebut menggunakan mesin pemisah (centrifuge) yang terdiri dari basket
berdinding saring yang berputar. Alat ini bekerja dengan gaya sentrifugal.
Hasil sentrifugasi adalah kristal gula
(belum kering dan masih berwarna merah/belum murni) dan molase (tetes tebu).
Kristal gula yang berwarna merah ini disebabkan adanya lapisan tipis tetes yang
masih tertinggal pada permukaan kristal sukrosa. Kristal gula ini masih membawa
kotoran, untuk membersihkannya dapat dilakukan dengan cara membasahi kristal
gula dengan larutan sukrosa jenuh kemudian diputar sekali lagi, sehingga
diperoleh kristal gula yang bersih.
6.
Penyelesaian
dan Gudang Gula
Dengan alat penyaring gula, gula SHS dari
puteran SHS dipisahkan antara gula halus, gula kasar, dan gula normal. Gula
halus dan kasar dilebur, kemudian dikristalisasi lagi. Gula normal dikirim ke
gudang gula dan dikemas dalam karung plastik.
4.2.2.2 Proses Pembuatan Alkohol / Spiritus di PS
Madukismo
Bahan baku utama untuk pembuatan alkohol atau
spiritus di PS Madukismo adalah tetes (molase) yang merupakan hasil samping
pengolahan gula. Sementara bahan bantunya adalah Ragi atau Yeast, Urea, NPK,
Superfloc, H2SO4 dan air. Ragi yang dipakai adalah Saccaromyces cerevisiae.
Enzim yang ada dalam ragi ini merubah gula yang masih ada dalam tetes menjadi
alcohol dan gas CO2. Reaksi kimianya adalah sebagai berikut:
A. Sakarosa dihidrolisa menjadi glukosa (gula
reduksi)
B. Gula reduksi bereaksi menjadi Alkohol + gas
CO2
(Alkohol)
Hasil produksi alkohol dibedakan atas dasar
kualitas sebagai berikut :
1.
Alkohol Teknis
: masih mengandung aldehida, kadar ± 94 %, digunakan untuk membuat spiritus
bakar.
2.
Alkohol Murni
(prima) : bebas aldehida, kadar 95 %, bisa dipakai pada industri minuman,
farmasi, kosmetik, dan lain-lain.
3.
Hasil samping :
Minyak fusel (amil alkohol).
Secara umum proses pengolahan tetes menjadi
alkohol melalui 3 tahapan berikut:
1.
Pemasakan
Tetes diencerkan dengan air sampai brix
tertentu dan ditambah nutrisi untuk pertumbuhan ragi. Sebagai sumber nitrogen
dipakai pupuk urea, dan sebagai sumber phosphor dipakai pupuk NPK.
2.
Peragian
Dilaksanakan bertahap mulai dari isi 3.010
liter, 18.000 liter dan 75.000 liter. Waktu peragian utama berkisar 36 - 40 jam
dan kadar alkohol yang bisa dicapai antara 9 - 10 %.
3.
Penyulingan
Adonan yang telah selesai diragikan dipisahkan
alkoholnya (disuling) di dalam pesawat penyulingan. Penyulingan menggunakan
tenaga uap dengan tekanan 0,8 Kg/cm2 pada suhu 120◦C. Pesawat
penyulingan terdiri dari 4 kolom :
·
Kolom kasar
Hasil : Alkohol kasar dengan kadar ± 45% masuk
ke kolom Vorloop. Vinasse, dibuang.
·
Kolom Vorloop
Hasil atas : Alkohol teknis dengan kadar 94 %
masih mengandung aldehid, kemudian ditampung sebagai hasil. Hasil bawah :
Alkohol muda dengan kadar ± 25 % masuk ke kolom rektifiser.
·
Kolom
Rektifiser
Hasil atas : Alkohol murni (prima) dengan kadar
95 % bebas aldehid, ditampung sebagai hasil. Hasil tengah : Alkohol muda yang
mengandung minyak fusel, masuk ke kolom nachloop. Hasil bawah : Lutter waser,
air yang bebas alkohol. kadang- kadang bila perlu sebagian digunakan untuk
menambah kolom vorloopsebagai bahan penyerap alkohol dan sebagian lagi dibuang.
·
Kolom Nachloop
Hasil atas : Alkohol teknis dengan kadar 94 %,
ditampung sebagai hasil. Hasil bawah : Air yang bebas alkohol, dibuang.
Minyak fusel yang mengandung amyl alkohol
merupakan hasil samping Pabrik Spiritus. Minyak ini bisa digunakan untuk bahan
baku pembuatan essence (amyl acetat). Sementara pembuatan spiritus adalah
dengan merusak alkohol teknis menggunakan minyak tanah, methanol, dan pewarna
methylen blue.
4.2.3
produk yang
dihasilkan oleh PT. Madubaru (Madukismo) Yogyakarta
Produk-produk
yang dihasilkan oleh Madu Baru (Madukismo) Yogyakarta adalah sebagai
berikut :
a.
Gula MK
b.
Alkohol
c.
Spiritus
d.
Pupuk kompos
BAB
V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh setelah
melakukan kunjungan di Industri Gula Madubaru (Madukismo) dan UPT BPPTK LIPI
Yogyakarta adalah sebagai berikut :
5.1.1. Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan
Proses dan Teknologi Kimia
Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPT BPPTK LIPI) Yogyakarta.
1.
UPT
BPPTK LIPI dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang
Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia
(BPPTK).
2.
UPT
BPPTK LIPI memiliki tiga Laboratorium yang digunakan untuk penelitian berbagai
macam pengolahan dan penelitian Teknologi diantaranya adalah Laboratorium
pangan, Laboratoruim pakan, dan Laboratorium Teknologi Kimia dan Lingkungan.
3.
Alat-alat
yang berada pada Laboratorium tersebut
meliputi
:
a.
Makro Sentrifuge
b.
Mikro Sentrifuge
c.
Makro Autoklaf
d.
Mikro Autoklaf
e.
Mixer
f.
Evaporator
g.
Bio Gas, dan lain-lain
4.
Produk-Produk
yang dihasilkan oleh UPT BPPTK LIPI adalah sebagai berikut :
a.
Gudeg
Bu Tjitro
b.
Mangut
Lele
c.
Lemofit
d.
Tepung
BCM Tempe
e.
Imunochick
f.
Sabun
Kecantikan
g.
Sayur
lombok iji
h.
Rendang
mangun ria
i.
Tempe
kari
5.1.2. PT.Madu Baru (Madukismo) Yogyakarta.
1.
Pabrik Gula (PG) Madukismo oleh pemerintah dipertahankan dan
mulai diperbaiki pada tanggal 14 Juni 1955. Hal ini atas prakarsa Sri Sultan
Hamengkubuwono IX yang memikirkan agar hasil pendapatan petani daerah
meningkat dan untuk memperluas lapangan
kerja. Tanggal 29 Mei 1958 pabrik tersebut diresmikan oleh Presiden RI Ir.
Soekarno. Mulai tahun 1958 pabrik mulai
beroperasi dengan kapasitas 1500 ton tebu per hari.
2.
Alat-alat yang digunakan untuk proses pembuatan tebu menjadi
gula adalah sebagi berikut :
3.
Proses-proses pembuatan tebu menjadi gula adalah sebagai
berikut :
a.
Pemanenan Tebu
b.
Pemerahan Nira (Extraction)
c.
Pemurnian Nira
d.
Penguapan Nira
e.
Kristalisasi
f.
Puteran Gula
4.
Produk-produk yang dihasilkan oleh Madu Baru
(Madukismo) Yogyakarta adalah sebagai berikut :
e.
Gula MK
f.
Alkohol
g.
Spiritus
h.
Pupuk kompos
5.2.
Saran
Saran
penulis bagi peneliti selanjutnya adalah pada saat melakukan observasi lapangan
agar lebih mencermati dan aktif dalam pengamatan sehingga hasil yang didapat
bisa maksimal. Jangan bersenda gurau dan tidak mementingkan kepentingan
pribadi.
Lampiran-lampiran

0 komentar:
Posting Komentar